Selasa, 23 Agustus 2016

Untung Gak Jadi


Judul dari tulisan ini memang seperti tidak memiliki makna apa-apa jika dibaca sekilas, namun jika pembaca mau menyempatkan sejenak dan melanjutkan membaca artikel pendek ini, insyaAllah judul di atas akan menjadi sebuah susunan kata yang syarat makna.

Judul di atas , saya ambil dari beberapa part peristiwa hidup saya yang banyak merubah pemikiran dan pola hidup saya. Yaah, bisa dibilang lebih dewasa dan lebih siap dalam mencerna takdir Allah dalam berbagai bentuk.

Saat duduk di bangku SMA dulu, saya sangat menyukai bahasa inggris dan bercita-cita jadi guru bahasa inggris, alhasil ketika lulus dari bangku SMA, saya mengikuti SNMPTN pada jurusan pendidikan bahasa inggris, namun apa yang terjadi? Saya tidak lolos, kemudian saya lanjutkan mengikuti UM tapi hasilnya sama saja. Saat itu hati saya seperti hancur berkeping-keping, menelan pil pahit kegagalan dan penderitaan. Bahkan saya namakan tahun itu sebagai ‘amul huzn (tahun kesedihan). 

Akhirnya saya terpuruk, menggugat Tuhan yang tak kunjung menghulurkan kasih sayang-Nya kepada saya. Saya semakin marah dengan keadaan. Sampai akhirnya saya berhenti satu tahun untuk menarik diri dari dunia pencarian ilmu. 

Demi melihat teman seangkatan yang sudah memulai perkuliahan, rasanya hati ini sakit dan sampai pada titik klimaks sebuah penderitaan, hidup luntang-lantung tidak jelas dan nyaris tanpa arah. Namun hari-hari gelap itu semakin berlalu, sejenak diri ini mulai mau menanamkan motivasi dan mimpi seperti dulu lagi.

Kekecewaan itu begitu kuat, hingga di tahun selanjutnya, saya memutuskan untuk tidak bergabung di SNMPTN lagi demi mengambil jurusan yang sama. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil jurusan PAI di sebuah universitas swasta di kota Bandung. Dengan hati yang hampa, kuikuti saja perkuliahan disana. Setiap hari ku jalani, aku tidak lebih dari sesosok mayat hidup yang hanya bergerak karena malu dengan diriku sendiri.

Mayat hidup itupun terus menjalani kuliahnya sampai beberapa semester, datang se-enaknya dan mengumpulkan tugas se-kena-nya. Putus asa itu sempat datang lagi, namun karena saya harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah saya pilih, akhirnya saya memilih untuk menjalani semua pengkhianatan diri itu. Hati ini terus memberontak dan berkata “ini bukan passionmu”. Tapi aaaaahhh sudahlah, Tuhan mungkin tak sedang ingin memperhatikanku. Aku mulai mati rasa dan sudah tak peduli dengan semua takdir yang selalu tak sesuai dengan keinginanku.

Hari itupun datang juga, aku lulus dan diwisuda dengan mengantongi IPK akhir sebesar 3,4. Angka yang cukup fantastis untuk sesosok mayat hidup yang kuliah dengan jiwa yang hampir mati. 

Selesai wisuda, sebagaimana terjadi dengan berjuta sarjana-sarjana lain, saya mulai menyebarkan surat lamaran kerja ke berbagai sekolah. Semua media pengiriman surat saya coba, mulai dari yang saya antar sendiri, saya titip teman, bahkan saya kirim via pos. semua itu kujalani dengan hati yang dingin, karena diri ini sudah mulai tak peduli dengan hasil karena yang penting adalah upaya.
Dan suatu hari di tengah teriknya matahari di bulan ramadhan, saat raga ini meronta karena haus yang tak kunjung dilunasi oleh perintah ruh. Ponselku berbunyi tanda ada panggilan masuk, sejenak kulihat hatiku bergumam, ah telpon rumah yang tak ada di phonebook, seketika ku angkat telponnya, dan terdengar suara parau dari ujung telpon sana, terdengar suara seorang perempuan yang bertanya dan meyakinkan nama dan alamatku. Ku jawab dengan penuh wibawa dan bayangan mimpi masa depan yang indah. Wanita diujung telpon itu meminta saya untuk datang ke sebuah sekolah elit yang saya bidik guna memenuhi tes mengajar PAI dan wawancara. 
Keesokan harinya saya datang, sesuai yang dijadwalkan, saya ikut micro teaching di depan sang kepala sekolah dan dilanjut dengan sejumlah test keguruan, tes psikologi dan wawancara yang semuanya berjalan mulus karena teori pendidikan semuanya masih mendidik di otak saya, terang saja karena semua materi skripsi yang belum lama disidangkan sesuai dengan topic yang dipertanyakan di tes tersebut. Sampai berakhir dengan surat kesepakatan dan perjanjian kontrak kerja mengajar di sekolah tersebut.

Sejarah barupun dimulai, saya ternyata mengajar PAI di sebuah sekolah yang menggunakan bahasa inggris sebagai pengantar. Namun beruntungnya, beberapa pelajaran seperti PAI, Bahasa Indonesia, PKN dan IPS masih menggunakan bahasa Indonesia. Walau demikian, ketika berkomunikasi di luar mengajar, guru diharuskan berkomunikasi menggunakan bahasa inggris dengan siswa. Dan hal ini cukup menjadi kabar buruk untuk saya, yang tak mampu berbicara bahasa inggris sama sekali. Namun hati ini tetap senang, karena setiap hari, saya bisa terus belajar bahasa inggris sebagai bahasa perolehan yang memudahkan saya untuk lebih cepat menyerap dan mempraktekan bahasa tersebut.

Bulan berganti tahun, sampai saya baru menyadari bahwa kemampuan bahasa inggris saya meningkat signifikan (tentu saja jauh bila dibandingkan dengan guru-guru lain yang major awalnya berbahasa inggris), bahkan saya mampu mengajar materi PAI, membuat worksheet yang semuanya saya praktekan dalam bahasa inggris. Tak terasa bertahun-tahun diri ini baru tersadar dan menangkap semua hikmah dibalik peristiwa tujuh tahun kebelakang, mungkin ini maksud Allah. Saya tidak diloloskan di jurusan pendidikan bahasa inggris dulu. Agar saya bisa jadi guru PAI yang mampu berbahsa inggris. Kemampuan yang cukup langka di jurusan kami yang mayoritas berasal dari pesantren.

Kalimat “untung gak jadi” adalah ekspresi emosi saya pribadi dalam mengungkapkan rasa terimakasih saya atas skenario Allah SWT yang telah memperjalankan saya dahulu menjadi mahasiswa PAI, jauh dari harapan dan ekspektasi saya saat itu. Namun menjadi begitu special hasilnya saat ini.

Yaah itulah hikmah, yang kadang mungkin tidak bisa kita temukan dalam kurun waktu satu atau dua bulan, satu atau dua tahun, tapi tujuh tahun. Waktu yang tidak singkat dalam sejarah hidup seorang manusia. Di luar sana, mungkin ada orang yang baru menemukan hikmah masalah dalam hidupnya setelah sepuluh tahun, dua puluh tahun, bahkan ketika meninggal, baru anak cucunya yang menemukan manis dibalik kepahitan yang terjadi pada orang tuanya.

Hal ini juga berlaku di wilayah tempat tinggalku. Konon, zaman dulu wilayah Cililin Bandung Barat merupakan wilayah yang gersang, tanahnya merah dimana hanya alang-alang dan sereh yang bisa tumbuh di lahan kami, airpun sangat sulit didapatkan penghuni pada masa itu. Namun, ketika gunung Galunggung di Tasikmalaya meletus bulan April tahun 1982, kubah lava Galunggung yang membuntal sudah tak tahan lagi ingin memuntahkan laharnya, dimana abu vulkanik yang menyebar bak malapetaka bagi segenap wilayah Indonesia pada saat itu. Siang dan malam nyaris tak ada beda, karena sama gelapnya. Namun setelah letusan itu berakhir bulan januari 1983, tanah kami menunjukan rona berbeda, ia tampak lebih hitam dan lebih subur, sehingga aktivitas pertanianpun mulai menggeliat, tanah kami mulai bisa ditanami berbagai macam tumbuhan palawija, buah-buahan dan sayuran bisa tumbuh dimana-mana, pohon-pohon kayu mulai tumbuh menjulang tinggi dan memberikan keteduhan bagi penanamnya. Do’a sekaligus jerit tangis orang tua zaman dulu, yang hasilnya baru bisa dinikmati bertahun-tahun kemudian.

Yahh pembaca yang dirahmati Allah, itulah hikmah. Pelajaran dan berkah yang bisa kita ambil dari beberap peristiwa yang konon katanya “buruk” menurut kita, padahal TIDAK menurut Allah.
Dari pemahaman beberapa kejadian di atas, saya semakin yakin dan mulai legowo dalam menerima segala ketetapan (qudrah dan iradahnya Allah), saya tak lagi menggerutu jika hujan datang tiba-tiba saat saya sudah siap berangkat ke sebuah acara yang sudah saya rencanakan sejak jauh-jauh hari. Saya jadi lebih pasrah dengan segala ketetapan-Nya. Terserah pada-Mu ya Allah. Engkau Dzat Yang Maha Tahu.

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah Mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 216)
Wallahu a’lam


Antapani, 23 Agustus 2016 (22.49)


Senin, 27 Juli 2015

Jaahaduu Biamwalikum Wa-angfusikum


Kita Wajib Kaya

Pernah tahu 10 orang terkaya versi majalah Times? Yah, tentu saja semua orang tahu bahwa mereka yang tergolong manusia-manusia paling kaya di muka bumi ini adalah mayoritas berasal dari kalangan ummat Yahudi. Sebut saja Bill Gate atau Zukerberg. Mereka adalah dua orang kaya raya yang berasal dari kalangan Yahudi.

Kita??

Sayangnya dari 10 orang terkaya di dunia yang dinobatkan oleh majalah Times di atas, tak satupun dari mereka yang beragama Islam. Pertanyaannya, apakah semua orang Islam miskin? Tidak tentu saja. Banyak dari kalangan kami ummat Islam yang pergi haji tiap tahun, liburan keliling dunia bahkan shopping tas-tas dan pakaian mahal. Artinya, banyak orang Islam yang kaya, namun tingkat produktifitasnya boleh jadi tidak sehebat mereka yang Yahudi, sehingga tak mampu menjadi bisnis “adidaya” bagi dunia.

Miskin dan kaya memang sunatullah, artinya tidak mungkin tidak ada. Jika bumi ini masih berputar di atas porosnya maka akan ada orang miskin begitu juga orang kaya, sebagaimana adanya siang dan malam. Namun pernahkah kita berfikir, mengapa Allah mewajibkan zakat dan haji bagi yang mampu? Itu artinya, setiap muslim harus berusaha untuk bisa menyempurnakan ibadah-ibadah tersebut.

Kita harus berusaha menjadi orang kaya dengan cara yang halal, sekalipun pada akhirnya Allah mentakdirkan kita tetap sebagai orang yang miskin, itu tidak masalah asal kita sudah berusaha untuk menjadi orang yang kaya. Miskin atau kaya tak masalah jika sudah tawakal. Jika kita memang ditakdirkan jadi orang kaya, maka jadilah orang kaya yang bersyukur atas rezeki yang Allah berikan, tapi jika takdir kita menjadi orang miskin, maka jadilah orang miskin yang bersabar dengan segala ujiannya. 

Ali bin Abi Thalib mengatakan: Carilah harta seolah-olah kau akan hidup selamanya. 

Bukan berarti harus hubbud dunya (cinta dunia), namun harta yang kita cari adalah semata-mata ditujukan untuk kepentingan akhirat. Karena  pada kenyataannya, perjuangan dakwah Islampun membutuhkan pengorbanan yang tidak hanya jiwa, tapi jiwa dan harta, sebagaimana tercantum dalam firman Allah Qs (61) As-Shaf: 10-11

Yang Artinya:
                “Hai orang-orang yang beriman, Maukah kamu aku tunjukan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?”
                “(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui”

Allah SWT menyebutkan harta dalam urutan pertama sebelum jiwa, artinya betapa pentingnya harta sebagai penyokong perjuangan dakwah, barulah kemudian jiwa sebagai unsur keduanya. Mengapa demikian? Perhatikan ilustrasi berikut!

Jika seseorang muslim yang taat memiliki panggilan sebuah kewajiban menuntut ilmu (pembinaan) di suatu lokasi yang jauh, muslim tersebut siap untuk berangkat namun karena tidak ada ongkos sehingga pembinaan tersebut menjadi tidak mungkin dilakukan, mungkin jika jarak dekat bisa jalan kaki, namun jika jarak luar kota atau provinsi bagaimana? Disitulah pentingnya harta sebagai factor penting penyokong sebuah perjuangan ibadah.

Banyak macam ibadah yang bisa kita lakukan manakala kita adalah orang kaya, kita bisa mengejar pembinaan kemanapun, kapanpun dan berapapun. Dengan kata lain, banyak ibadah yang tidak bisa kita lakukan manakala kita tidak kaya harta. 

Dengan harta kita bisa beramal shaleh lebih, biarlah kita dihisab dengan merangkak seperti Abdurrahman bin ‘Auf karena beratnya pertanggung jawaban dihadapan Allah. Asal ujungnya tetap masuk surga. Pernah mendengar kisah Abu Bakar yang menginfakan seluruh hartanya untuk perang? Nah itu contoh hebatnya, namun demikian untuk ummat Islam yang belum mampu beramal sehebat Abu Bakar, Allah memberikan tuntunan dalam surat Al-Furqan: 67

Artinya: “Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan yang Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakan harta mereka tidak berlebihan, dan tidak pula kikir, diantara keduanya secara wajar. (Al-Furqan: 67)

Dengan harta kita bisa berinfak, berzakat, berwakaf, haji, mengurus anak yatim, mengurus fakir miskin, menolong dan bermanfaat bagi orang lain. Mau jadi apa kita? Silahkan tinggal memilih, KAYA lagi BERSYUKUR? Atau MISKIN lagi BERSABAR?. Kalau saya sih pilih yang pertama, gak tau Mas Dani sama Mas Anang. Tenang saja, dua-duanya insyaallah masuk surga. #lihatkisahBilalbinRabbah

Oleh karena itu penting kiranya penulis berbagi mengenai tips untuk memenej keungan yang insyaallah syar’i.

Bagi anda yang bekerja atau berwirausaha dalam masalah ini sama saja, jika anda menerima uang bulanan, maka yang harus anda perhatikan adalah:

1.       Bayar dulu zakat atau infak penghasilannya, dengan demikian uang bulanan anda bersih dari hak-hak orang lain. Berapapun penghasilan anda, jika nisab maka berzakatlah, namun jika belum, belajarlan untuk berinfak atau bersedekah 2,5%nya, tak peduli haul atau nisab, karena ini infak bukan zakat.

2.      Rincilah kebutuhan bulanan anda, jangan sampai anda membeli barang diluar kebutuhan. Ingat, kebutuhan hidup itu ada batasnya, yang tidak ada batasnya adalah GAYA HIDUP.

3.       Bayarlah tagihan atau cicilan secepatnya (bukan berarti mendukung praktek ribawi), jangan sampai menunda-nunda, sebab khawatir terpakai oleh kebutuhan yang lain. Barang yang paling baik adalah barang yang dibeli dengan cara tunai, namun demikian kita tidak menutup mata bahwa sebagian kita belum mampu untuk membeli beberapa barang dengan cara tunai 

4.      Sisihkan minimal 10% untuk menabung, dan anggap INI PENGELUARAN, sehingga anda tidak bisa mengambilnya kembali (syukur-syukur kalau langsung di auto debet dari rekening anda), ingat! Pos ini hanya boleh dikeluarkan dalam kondisi-kondisi darurat yang ada hubungannya dengan nyawa (sakit) atau pendidikan yang akan menjamin kesuksesan anda di masa depan.

5.      Sisakan uang di dompet secukupnya untuk operasional sehari-hari, seperti untuk membeli bensin, jika ban motor atau mobil anda pecah, atau jika tak sengaja lewat cilok Mang Wely Pasteur, heeeheeehee #sayangkalodilewatingituaja.

6.      Jika anda memiliki targetan lain seperti ingin membeli laptop baru, kendaraan baru, menikah atau hendak membeli rumah. Maka menabunglah diluar tabungan yang 10% tadi, karena itu kebutuhan bukan urusan nyawa.

7.       Jangan boros, sering membeli baju atau sering makan di cafĂ© atau restoran tidak baik bagi kondisi dompet anda, lakukanlah sesekali jika memang itu ada sangkut pautnya dengan membangun solidaritas pertemanan. Namun jika tidak, makanlah apa yang sudah tersedia di rumah atau memasaklah sesuai selera, kalau bisa kita bekal nasi ke tempat kerja kita, why not! hal ini pasti akan jauh lebih murah. Untuk kaum hawa, maka belilah baju, sepatu atau tas dengan bijak.

8.      Usahakan membeli satu atau dua buku setiap bulan, untuk target kita membaca supaya wawasan dan pengetahuan kita juga ter-upgrade. Bukunya tidak usah yang mahal, buku-buku kecil namun terfahami dengan baik pasti jauh lebih baik daripada beli buku tebal tapi malas membacanya.

9.      Jika anda sudah memiliki anak dan  anak anda sudah bisa diajak bicara (usia TK atau SD) maka buatlah komitmen dan bicarakan dengan anak anda seminggu berapa uang jajannya, berikan jadwal kepada mereka untuk setiap pembelian buku atau mainan. Contoh: hanya boleh membeli mainan di setiap tgl 5, hanya boleh membeli buku di setiap tgl 10, dsb. Maka insyaallah anak anda akan terbiasa berkomitmen bahkan sampai mereka duduk di bangku SMP, SMA bahkan kuliah.

10.   Jangan sampai berhutang diluar cicilan, sekecil apapun. Sekalipun itu Rp. 500,- segeralah bayar jika anda punya utang, Ingat! Jangan sampai utang itu dibayar oleh ahli waris anda.

11.   Jangan lupa, KEBUTUHAN ITU ADA BATASNYA, yang tidak ada batasnya adalah GAYA HIDUP.

Demikianlah beberapa tips dari saya semoga ada manfaatnya, saya yakin kita semua mampu memenej keuangan kita, bahkan orang yang ceroboh sekalipun. Tips diatas mungkin tidak berlaku bagi Bill Gate dan Zukerberg, tapi insyaallah untuk teman-teman yang pas-pasan sangat berlaku. Yaa pas mau jalan ke Singapur ada, pas mau umroh ada,pas mau S2/S3 ada. Yaitulah pas-pasan.

Sebagai penutup, saya ingin sekali mengingatkan diri saya pribadi dan para pembaca firman Allah dalam Qs Al-Isra: 27

“Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya”

Karena boros berart berfikir pendek, hidup tanpa perencanaan dan yang paling buruk yaaa temannya setan.

Wallahu a’lam
Antapani. 26 Juli 2015 (Catatan disela libur hari minggu)



Minggu, 10 Mei 2015

You Are What You Eat



Pepatah tua Inggris mengatakan “You Are What You Eat” yang artinya kurang lebih, kamu adalah apa yang kamu makan. Mungkin pepatah ini terdengar sedikit lebay dan terlalu simple untuk dibahas. Namun bagi saya, kata-kata ini sangat tajam dan memiliki makna filososfis yang dalam.

Pepatah ini bagi saya bukan hanya kata-kata bijak untuk pola hidup sehat saja, mungkin segelintir orang hanya mentafsirkan pepatah ini dengan kondisi badan kita adalah apa yang kita konsumsi, sehat dan tidaknya kita adalah bergantung kepada apa yang kita konsumsi, dalam hal ini adalah makanan dan minuman. Tafsir ini tidak salah, hanya sayang, jika ditafsirkan terlalu sempit.

Bagi saya, pepatah ini bermakna dua sisi: pertama, yaitu menjaga asupan makanan dan minuman ke tubuh kita, tidak berlebihan dan tidak kekurangan, seperti cukup sayur, cukup buah, cukup cairan, cukup karbo dll. Bagi yang suka makanan manis, hendaknya tidak terlalu berlebihan mengkonsumsi makanan manis, begitu juga dengan mereka yang suka dengan makanan asin seperti saya. Jangan berlebihan!

Terlepas dari sahih atau dlaifnya hadits tentang berhentilah makan sebelum kenyang. Namun alasan medis begitu kuat bahwa Nabi Saw menyuruh kita membagi “space” lambung kita menjadi tiga bagian: Spertiga untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara. Jika makanan yang kita konsumsi lebih dari sepertiga space lambung, maka akan melebihi kapasitas enzim pencerna, sehingga tidak akan mampu diserap dengan sempurna. Dan akan menyebabkan fermentasi, salah cerna dan menimbulkan gas.

Artinya, kesehatan kita akan sangat bergantung dengan apapun yang kita konsumsi. Jika kita merasa yang kita konsumsi kurang baik tapi tidak terjadi dampak apapun pada tubuh kita, hal ini mungkin saja berdampak pada efek jangka panjang tubuh kita. Ketika masih muda merasa kuat dan seperti tak terjadi apa-apa, namun saat usia mengingjak 40 tahun, semuanya mulai terasa sakit. Naudzubillah.

Sebagai muslim, tentu saja kita ingin dikaruniai Allah usia yang berkah, sehat dan kuat. Sehingga tidak ada satu macam ibadahpun yang kita lewatkan karena kita mampu melaksanakan seluruhnya. Itulah alasan Allah lebih mencintai muslim yang kuat (sehat) daripada yang lemah (sakit-sakitan).

Ketika jatuh sakitpun ada dua kemungkinan, apakah penyakit yang kita derita adalah murni pemberian ujian dari Allah, atau justru malah buah dari keteledoran kita dalam mengkonsumsi segala jenis makanan tanpa memperhitungkan kondisi tubuh. Jika penyakit yang kita derita adalah murni ujian dari Allah, maka apapun keputusan Allah itulah yang terbaik, namun jika penyakit yang kita derita adalah karena buah dari keteledoran, maka mulailah untuk memerbaiki pola hidup anda, supaya penyakit itu jauh dari kehidupan anda.

Makna kedua pepatah you are what you eat untuk saya adalah makna pesan moral dari pepatah tersebut. Tindakan dan perkataan yang keluar dari segenap tubuh kita, itulah kita sebenernya. Masih bingung? Oke, saya jelaskan lagi.

Apakah anda sering melihat orang yang senang berganti status setiap jam, meng-ekspos apa yang dia rasakan dan dia alami setiap detik. Mending kalau yang di-updatenya kata-kata motivasi atau quotes yang berguna, tapi kalau yang di update status adalah masalah pribadinya kan mulai berabe tuh.

Salah seorang kenalan saya ceritanya senang sekali meng-update kesuksesannya, dari mulai dia masuk S2 sampai dia lulus dan bekerja di sebuah kantor pemerintahan. Mungkin motifnya baik yah, untuk membagi kabar bahagia, namun tak disangka ternyata kos-kosannya kemalingan akibat update foto dia lagi makan di sebuah restoran mewah di Kota Bandung. Orang jadi tahu kali ya, kalo dia emang banyak duit dan tajir maha daya.

Kasus lain adalah berasal dari kisah seorang klien di Psikolog sekolah saya, dia bercerita bahwa ada kliennya yang dirampok kemudiann diperkosa gara-gara membuat status “home alone nih” di facebook. Mungkin jika temannya yang baik membaca status seperti itu tidak jadi masalah, tapi kalau ternyata yang membaca ststus tersebut adalah temannya yang punya niat jahat, hayoo gimana…?

Kisah-kisah di atas semoga bisa dijadikan hikmah yaa buat kita, status itu adalah perkataan kita loh teman, jadi jika kita senang mengeluh, bersumpah-serapah, meng-ekspos prestasi kita sendiri di media social (ria) itulah cerminan jiwa kita, jauh dari kebergantungan kepada Allah. Dimana letak penghambaan kita terhadap Allah, dimana Rasulnya selalu mencontohkan untuk bersikap, tawadlu dan hanya berkeluh kesah pada Allah saja.

Saya teringat nasihat A Agym yang bunyinya: “Mulutmu itu seperti teko, jika isinya air putih, maka ketika dituangkan akan keluar air putih. Dan jika isinya air kopi, maka yang dituangkan adalah air kopi”. Begitu juga dengan mulut kita, jika hati dan fikiran kita isinya baik, maka yang keluarpun adalah kata-kata dan tindakan baik, namun jika isi hati dan fikirannya buruk, maka kata-kata yang dikeluarkannyapun jauh dari nilai-nilai ketwadluan.

Rasulullah bersabda: “Jika kita bersedekah dengan tangan kanan, maka tangan kiri jangan sampai tahu”

Dari hadits di atas jelaslah, bahwa jika kita melakukan kebaikan harus disembunyikan, jangan dikatakan pada siapapun apalagi sampai diekspos di media social yang berpeluang dibaca oleh ribuan pasang mata. Terlebih lagi jika ada masalah, ada seorang istri yang menjelek-jelekan suaminya di media social. Astagfirullah.. dia menyebarkan aib suaminya kepada teman-teman media sosialnya. Rasa lega datang ketika ada yang me-like atau mengomentari dengan penuh rasa iba kepadanya, namun apakah dia sadar jika Allah tidak ingin menutupi aib seseorang yang suka menyebarkan aib orang lain.

Pergunakanlah media social dengan bijak, media social adalah alat untuk hidup bersosial, bukan untuk menjadikan kita anti social, berkeluh kesah, bersumpah serapah, meng-ekspos kesuksesan pribadi (ria) apalagi sampai menyebarkan aib orang.

Untuk itu, mari kita jaga perbuatan dan perkataan kita dengan terus menerus mengkaji ilmu Allah, mempraktekannya dan membagikannya. Jangan sampai ilmu itu hanya menjadi “koleksi otak” saja. Jadi You are what you eat adalah Apa yang kita katakan dan lakukan adalah apa yang kita fahami. Semua yang kita konsumsi harus halalan tayyiban, baik konsumsi yang masuk ke perut apalagi konsumsi yang masuk ke pikiran kita. Sehingga berbuah menjadi kata dan aksi positif.

Dunia maya atau dunia nyata, kita tetaplah kita, yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban atas umur kita.

“Rabbanaa dzalamnaa angfusanaa wainlam tagfirlanaa watarhamnaa lankuunanna minal khaasiriin”

Antapani. 10 Mei 2015