Selasa, 31 Januari 2017

Using Social Media Wisely



Berawal dari peristiwa 212, demo jutaan kaum muslimin menuntut diadilinya gubernur non-aktif Basuki Cahaya Purnama alias Ahok, aksi damai raksasa itu berawal dari sebuah potongan video yang diunggah Buniyani, video pendek itu berisi komentar Ahok atas surah Al-Maidah ayat 51. 

Tidak ada yang salah dengan aksi 212, toh aksi tersebut juga merupakan wujud akumulasi kekesalan ummat Islam atas perbuatan dan perkataan Ahok yang lagi dan lagi nyerempet masalah agama. Malah dalam aksi tersebut kita bisa menyaksikan betapa ummat Islam Indonesia itu bisa kompak, tertib dan mampu menampakan diri sebagai kaum mayoritas yang tak mau keyakinannya dihina atau diintervensi oleh kaum lain. Alhamdulillah, sebagai orang  Islam Indonesia saya merasa bangga dan haru melihat ukhuwah islamiyah kita yang begitu santun walalupun masih berada dalam system demokrasi.

Namun menilik dari sisi sabab-musababnya aksi ini pecah, justru sejenak setelah video pendek yang diunggah tersebut, qadarAllah. Tuntutan ummat Islam Indonesia semakin menguat hingga akhirnya KAPOLRI mentetapkan sang taipan sebagai tersangka, dengan status tersangkanya, Ahok masih juga aktif berkampanye, menyuarakan gagasan-gagasan dan ide pembaharuannya kelak jika dia terpilih menjadi gubernur di putaran selanjutnya. 

Selang beberapa waktu, sang ulama Habib Riziqpun digugat dengan tuduhan penistaan terhadap Pancasila, sedih rasanya melihat sang ulama pemberani itu ditetapkan menjadi tersangka. Hati ini menangis dan hampir mempertanyakan apa yang terjadi, apa maksud Allah atas semua ini? Mengapa semua orang jadi dengan mudahnya saling menuduh dan melaporkan, semua hal-hal negative begitu mudahnya diekspos terutama di social media.

Sejenak hati ini teringat firman Allah, Surah Al-Hujurat ayat 6
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa kabar berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaanya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”  (Al Hujurat: 6)

Hidup di zaman sekarang ini memang harus penuh kehati-hatian, anugrah Allah yang bernama teknologi memang sudah menjelma menjadi gaya hidup masyarakat modern, bahkan manusia masa kini lebih memilih tidak makan daripada tidak ada paket kuota internet. Begitu pentingnya akses internet dalam kehidupan manusia saat ini. Mudahnya akses informasi membuat kita jadi semakin cerdas dan mau menghabiskan waktu berjam-jam di depan gadget atau laptop. Semua itu dilakukan demi mengetahui informasi dan mengetahui apa yang sedang ramai terjadi di dunia luar sana. Hingga para pengakses ini menamai diri mereka sendiri sebagai netizen.

Dengan hadirnya social media, semua orang bisa menjadi wartawan tanpa harus kuliah di jurusan jurnalistik bertahun-tahun, semua orang bisa menjadi fotografer tanpa harus kuliah atau mengikuti pelatihan semacamnya, bahkan semua orang bisa menjadi komentator dan saling menghina di social media. Sejatinya, seorang dokter yang memiliki kewenangan untuk mengoprasi atau mendiagnosa penyakit pasiennya adalah orang yang sudah mengikuti kuliah bertahu-tahun di bidang kedokteran, kemudian wajar jika pendidikannya telah rampung, sang dokter mendiagnosa penyakit dan kita percaya atas diagnosanya hingga akhirnya sang dokter memberikan resep sebagai obat yang mudah-mudahan dengan kehendak Allah bisa menyembuhkan sang pasien.

Namun yang terjadi saat ini, orang dengan mudahnya berbagi informasi atau meng-update status tanpa menimbang dampak yang akan terjadi, selain itu diluar sana dengan mudahnya para netizen yang reaktif berkomentar, men-judge, mencela, mempermainkan, bahkan ‘membunuh’ karakter orang lain. Tidak semua netizen juga reaktif, malah banyak saya temukan beberapa orang dengan berkomentar secara bijak dan berimbang. Namun yang ingin saya soroti saat ini adalah mengapa manusia bisa begitu mudahnya terpancing oleh kabar yang belum tentu itu benar. Sampai muncul istilah haters, sungguh istilah ini adalah istilah yang tak pantas disematkan kepada seorang muslim. Sebagai pribadi yang santun, pemaaf dan rahmatan lil ‘aalamiin.

Berikut ini saya buat beberapa tips menggunakan social media dengan bijak, jika ada manfaatnya silahkan netizen ambil, namun jika tidak silahkan tinggalkan saja, InsyaAllah tidak akan merugikan hidup siapapun.

1. Statusmu Harimaumu
Teringat peristiwa beberapa hari lalu, seorang artis yang diberhentikan kontraknya gara-gara statusnya di instagram yang dinilai menghina dan melecehkan pihak tertentu. Dari kejadian ini, kita bisa mengambil pelajaran, hendaknya kita menimbang dan memikirkan informasi atau status apa yang hendak kita post ke social media, apakah bersifat informatif, hiburan positif (bukan konten pornografi) atau motivasi. Diluar itu semua, maka konten bisa dipastikan hanya sekedar pamer, menunjukan eksistensi diri, sumpah serapah atau keluhan. Jadi, berkaca dari semua kejadian itu, hendaknya kita lebih berhati-hati dalam berucap di kehidupan nyata maupun kehidupan maya.

2. Berfikir sebelum berkomentar
Sebagai makhluk modern, kita selalu terus-menerus mengakses internet dengan berbagai macam kepentingan, oleh sebab itu, jika menemukan informasi atau kabar di internet, hendaknya kita tidak langsung, serta-merta melayangkan komentar tanpa memahami apa dan bagaimana kabar itu bisa terjadi, hindari komentar berupa menjustifikasi orang, menghina, merendahkan, mempermainkan atau mem-post icon-icon atau gambar yang tak pantas. Tidak hanya di dunia nyata kita harus mengklarifikasi namun begitu juga di dunia maya. Dalam surah Al-Hujurat ayat 6 Allah menegaskan bahwa: 

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa kabar berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaanya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu  (Al Hujurat: 6)

Sebagai orang beriman, hendaknya kita tidak bersikap reaktif, gampang tersulut emosi atau bahkan mudah marah. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam dalam perjalanan hidup mulianya mencontohkan kepada kita, ketika kabar istrinya Aisyah pergi berdua bersama Shofwan terdengar, segelintir orang-orang musyrik memanfaatkan situasi ini untuk memprovokasi Rasulullah, ketika kabar itu sampai kepadanya, beliau merasa cemburu dan marah, tentu saja itu tindakan dan sikap manusiawi, namun apa yang beliau lakukan? Apakah beliau memukul istrinya? Menghina? Atau mengusir? Men-judge? Itu tidak beliau lakukan, beliau hanya mendiamkan Aisyah r.a., hingga datang wahyu dari Allah yang menyatakan bahwa khabar itu hanya fitnah dan Aisyah tidak berbuat selingkuh. Maka Rasulullahpun kembali menerima Aisyah sebagaimana sebelumnya beliau perlakukan.

Dari kisah di atas, hendaknya bisa kita teladani, bahkan ketika ada informasi yang merugikan diri kita sekalipun, hendaknya kita tidak bertindak gegabah dan tidak dengan mudah terpancing emosi. Berfikir jernih dengan kepala dingin tentu saja hasilnya akan lebih maslahat dari pada komentar dengan nada rasis, reaktif atau provokatif. 

3. Buku adalah gudangnya ilmu, membaca kuncinya
Membaca sebuah buku dengan judul “Menguak Rahasia Cara Belajar Orang Yahudi” karya Ustadz Abdul Waid, penulis menyatakan bahwa konon orang Yahudi yang mayoritas penemu teknologi itu, tidak pernah menanamkan kepada anak-anak mereka untuk belajar melalui pc atau gadget, itulah sebabnya sekolah-sekolah dan perpustakaan di Israel selalu penuh dan ramai pengunjung, karena siswa dan masyarakat umum lebih memilih belajar melalui buku dari pada mencari sumber informasi dari internet, semua informasi yang dihasilkan dari buku lebih valid, akuntabel dan bisa dipertanggungjawabkan.

Penulis menambahkan, dengan menggali informasi atau bacaan lewat buku, siswa di Israel cenderung bisa membentuk pola pikiran dari apa yang di baca, jadi siswa di Israel mampu menyerap informasi secara terstruktur sehingga daya ingat mereka tajam dan tahan lama. 

Dari pemaparan penulis Ustaz Abdul Waid di atas, kita bisa memanifestasikan gaya belajar orang Yahudi yang mengurangi akses informasi lewat gadget atau pc computer, selain menimbulkan radiasi membaca lewat handphone atau computer juga tidak membuat kita mampu membentuk mind map, namun semua itu bisa dilakukan jika kita membaca buku. Percayalah, jika orang-orang Yahudi itu bisa cerdas bahkan banyak yang jadi penemu, bukan karena mereka adalah makhluk yang diunggulkan Tuhan di muka bumi ini, tapi karena mereka memiliki pola hidup dan pola belajar yang baik sehingga generasinya tumbuh menjadi para ilmuwan dan memiliki pengaruh di dunia ini, bahkan mereka sendiri yang menciptakan social media. Tidak bermaksud mengunggulkan, hanya memotivasi diri sendiri dan anda semua, bahwa kita juga bisa se-cerdas mereka.

Dengan demikian, perbanyak baca buku, kurangi menggali informasi dari gadget jika tidak terlalu penting. Jika penting ya gunakan saja! Jangan kaku juga.

4. Punya sosmed? Ya harus…
Sebagai anak muda masa kini, tentu saja kita harus mampu mengimbangi era teknologi dan derasnya arus informasi, saya menyarankan anda untuk mengurangi penggunaan gadget, bukan berarti saya melarang anda untuk memiliki facebook, twitter, instagram, whatsapp, line dkk lah yaa, beberapa atau mungkin semua itu boleh anda miliki, mungkin ada di antara teman SD kita dulu, SMP, atau SMA yang ingin bersilaturahim dengan kita namun terkendala di jarak dan waktu, tentu saja, social media adalah media yang pas untuk bersilaturahim secara efektif dan efisien.

Namun syaratnya, kita hanya boleh mengunggah gambar-gambar atau status yang akan menimbulkan manfaat bagi pembacanya, misalkan kata-kata motivasi, gambar-gambar inspiratif, meme atau gambar dengan konten bertujuan hiburan positif dalam artian bukan gambar porno. Tentu saja hal itu diperbolehkan, bahkan dianjurkan.

Jika sebagian orang bisa merusak kaum muslimin dengan status-status, gambar atau video yang kontennya merusak, maka kita juga harus buat media yang serupa untuk memerangi hal itu dengan status-status atau gambar yang berkonten positif dengan tujuan agar membangun karakter anak muda sebagai penerus pemimpin ummat Islam di masa yang akan datang.

5. satu teman di dunia nyata lebih berharga daripada seribu teman di dunia nyata
“Dari Abi Hurairah, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa ingin diluaskan rizqinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia sambungkan silaturahim” (HR. Bukhari)

Hadits di atas mensunnahkan kita untuk senantiasa menjaga hubungan baik dengan orang-orang di sekitar kita, jika kita ingin diluaskan rizki dan dipanjangkan usia, maka jagalah hubungan baik dengan keluarga, tetangga, rekan kerja, sahabat, menjaga hubungan baik itu memang susah-susah gampang, gampang yaa karena baik atau buruknya seorang manusia yang bisa dinilai dari perkataannya, menjaga hubungan baik bisa dengan menjaga perkataan, senantiasa menjaga ucapan dan perbuatan serta mengingat mereka dengan memberikan makanan atau souvenir jika kita selesai bepergian (hanya contoh saja).

Keluarga, teman atau orang-orang yang ada di sekitar kita, merekalah orang-orang yang pertama kali akan mengetahui kondisi kita manakala kita berada dalam kesulitan, mereka juga yang akan menghantarkan jeazah kita manakala kita meninggal kelak, sebab itu jagalah hubungan baik kita dengan mereka. Dengan begitu semua kebaikan itu akan kembali pada kita. Ingat! Semua kebaikan itu akan kembali pada pelakunya. InsyaAllah.

Sebagaimana Allah berfirman dalam surah Al-Isra ayat 7:
“Jika kamu berbuat baik berarti kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri, …” (Al-Isra: 7)

Wallahu a’lam.
Demikian beberapa tips menggunakan social media dengan bijak, semoga ada manfaatnya dan bernilai amal saleh untuk penulisnya. Aammiin.



Minggu, 22 Januari 2017

Berlibur ke 'rumah' nenek



Saat duduk di bangku sekolah dasar dulu, setiap kali ibu guru memintaku membuat karangan bahasa Indonesia pasca libur panjang, pasti dengan sigap dan penuh keyakinan aku langsung menuliskan sebuah judul yang sudah otomatis melekat di otaku, apalagi kalau bukan “berlibur ke rumah nenek”. Awalnya, aku kira hanya aku yang membuat karangan dengan judul seperti itu, tapi ternyata setelah aku tanya teman-teman sekelasku, mereka juga membuat karangan dengan judul yang sama. 

Hingga aku tumbuh dewasa seperti sekarang ini, bahkan aku juga adalah seorang guru, ternyata semua anak sekolah dasar sama saja, siswa sd di kampung dan di kota ternyata menulis karangan yang sama. Hanya satu dua siswa yang menulis karangan dengan judul atau tema berbeda, mayoritasnya ya sama saja.

Aku memang bukan guru bahasa Indonesia, tapi aku menaruh perhatian yang cukup besar pada dunia literasi dan menulis.

Yap, kembali ke topik. Berlibur ke ‘rumah’ nenek. (cieeee yang abis berlibur ke rumah nenek).  

Well, aku emang udah gak punya nenek sih, nenek dari pihak ayahku, beliau sudah meninggal 40 tahun yang lalu, bahkan sebelum beliau melihat cucunya yang cerdas dan menggemaskan ini, hee.. sedangkan nenek dari pihak ibuku, beliau sudah meninggal 13 tahun yang lalu, saat aku duduk di bangku SMP (buset, tua banget yah gw) wkwkwkwkwkw. Biarin. Kan kata Sandra dewi juga, tua itu pasti, bugar itu pilihan. Lha gw?? Tua iyah, bugar kagak. Wkwkwkwkw, huwadezig. Udah ah, bukannya do’ain almarhum-almarhumah kakek-nenek, eeeehhh malah becanda. Ok, ok, ok, ok. Gw insaf. Serius nih, asli gw serius.

Do’a dulu ya kakak..

“Allaahummagfirahum warhamhum wa-‘aafihii wa’fu anhum wa-akrim nuzulahum wa wassi’madkhalahum” Aaamiiinn.

Yap. Akhir desember 2016 kemarin, akhirnya saya memutuskan untuk mudik saja ke kampuang halaman tercinta, nun jauh di mato yang bernama Rongga, Cililin, Bandung Barat. Jarak tempuh 3 jam dengan menggunakan motor dari kota Bandung dengan kecepatan rata-rata 50-60 km/jam. Keputusan mudik itu saya ambil mengingat sudah pusingnya saya dengan aktivitas kerja dan hiruk-pikuk perkotaan, panas dan macet sudah tak sanggup lagi saya rasakan di tanggal 30 Desember waktu itu. 

Pagi buta, tepat pukul 06.00 Waktu Indonesia Bandung, kuda besi itupun aku pacu, dengan membawa perlengkapan mudik secukupnya dan sedikit oleh-oleh untuk orang tua tercinta. Alhamdulillah sampai rumah dengan selamat tepat pukul 10 (karena gw berenti dulu di tukang seblak) heee.

Sampai rumah, semuanya normal, tak ada yang aneh, ibu dan bapakku menyambut, tersenyum ramah seperti biasa, begitu juga dengan keponakan-keponakanku, 7 kurcaci yang membongkar barang bawaanku dengan brutal dan penuh persaingan.

Malam tahun baru di rumah, hmmmmmm, dingin, sepi dan damai, seperti yang sudah aku prediksikan. Tidur lelap dan bangun di subuh hari. Ibu dan bapakku menjalankan rutinitas paginya, setelah mereka bangun di sepertiga malam, shalat subuh (bapak ke masjid), mengaji dan langsung menyalakan radio tepat pukul lima pagi, Ust. Shaimun di  radio RRI Bandung sudah menjadi ustad pilihan bapak-ibuku sejak 12 tahun terakhir. Mereka berdua dengan khusu mendengarkan cermaha ustadz, ibu sambil masak nasi dan bapakku sambil duduk manis di depan tungku legendaris yang telah sangat berjasa membesarkan kami dengan masakan-masakannya.

Saat itulah, seketika bapaku melayangkan pandangannya ke arahku dan mengatakan. Hari ini bapak mau memindahkan maqam (kuburan) nenekmu, kalau kamu mau ikut, hayu siap-siap, bapak sudah bayar orang untuk gali maqamnya, karena maqam nenekmu itu posisinya ada di pemakaman sebelah bawah, dulu aman, tapi sekarang jalan semakin melebar, jadi kita harus memindahkannya. Akupun mengaanggunk dengan penuh antusias, se-umur hidup aku tak pernah punya pengalaman memindahkan kuburan, apalagi ini nenekku, nenek yang belum pernah ku temui.

Bapakku menjelaskan, bahwa maqam ibunya itu sudah 40 tahun, kemungkinan maqamnya juga sudah tidak ada apa-apa lagi, tapi bapak persiapan saja, bapak bawa kain kafan 1 meter, hawatir masih ada tulang-tulang yang harus dipindahkan. Akupun mengangguk tanda setuju.

Dari belakang, ku ikuti langkah kaki bapakku dengan seksama, tak lupa 5 kurcacipun ingin turut serta menjadi saksi sejarah pemindahan maqam ini, awalnya khawatir sih bawa mereka, tapi apa boleh buat, daripada nangis dan riweuh, yowis- bawa saja!   

Sampai di pemakaman, ternyata tukang gali kubur sudah selesai menggali kubur nenekku, dan hasilnya mencengangkan. Tulang belulang neneku masih utuh dari ujung kaki sampai kepala, bahkan kain kafannya tidak rusak sama sekali, hanya kotor karena tanah saja, artinya panjang tubuh dan bentuknya masih sama. Akhirnya bapakku memutuskan untuk kembali ke rumah lagi dan membawa kain kafan ekstra, karena yang 1 meter tentu saja tidak akan cukup. 

Saat itu aku  melihat pusara nenekku untuk pertama dan mungkin terakhir kalinya, aku tertegun dan bertanya-tanya dalam hati. Wahai nenekku tersayang, amalan apa yang membuatmu mendapat nikmat kubur seperti ini? Tolong ceritakan padaku, agar aku semakin taat kepada Allah. Sambil aku bersihkan batu nisannya, aku cabut rerumputan yang tumbuh di sekitar batu nisan itu. Dalam hati aku bergumam, terimakasih Allah kau telah menunjukan pemandangan indah ini kehadapan mataku, terimakasih bapak, kau telah mengajakku ke tempat yang paling anti mainstream di datangi manusia di tahun baru. Aku sangat bersyukur dan terharu melihat semua itu. 

Sejenak lamunanku terpecah saat bapakku datang, tergopoh-gopoh membawa kresek hitam yang berisi 2 meter kain kafan. Kamipun langusng membentangkannya dan mengangkat jasad almarhumah neneku dengan sangat hati-hati dan kamipun letakkan di atas kain kafan yang baru, kemudian setelah diikat dikedua sisi, jasad nenekupun dipindahkan ke pusaranya yang baru, dan dikebumikan lagi.

Prsoses pemakaman selesai, akupun terus tenggelam dalam bayangan seperti apakah gerangan siksa atau nikmat kubur, termasuk yang manakah aku kelak. Tapi salah satu dari lima kurcacipun ada yang menangis, dan tafakurkupun berakhir saat itu. Kamipun berjalan beriringan menuju rumah. Sampai di rumah, kuceritakan semuanya pada ibuku tanpa terkecuali, semua pengalaman itu sungguh luar biasa.

Yah, hari itu adalah liburan yang paling luar biasa, liburan yang tidak hanya me-refresh jasad karena mendapat udara segar di kampung halaman, tapi juga me-refresh ruhiyah sebagai jiwa yang satu saat akan diambil oleh pemiliknya. Jika orang lain sibuk dengan resolusi di awal tahun baru, maka sejatinya resolusi yang peling futuristik dari semua resolusi adalah khusnul khatimah.

Sebuah resolusi yang mungkin tak pernah terlintas di benak setiap para pembuat resolusi di tanggal 1 januari. Akhirnya aku menyadari, bahwa jika aku terus menua, semua itu buatku tak masalah, aku tak takut tua, aku hanya takut, masa mudaku, usiaku dihabiskan untuk hal tak berguna. 

Well, guys.. itu cerita gw berlibur ke ‘rumah’ nenek. All I can say, this is my best spiritual journey ever. 

Wallahu a’lam.
Bandung, 22 Januari 2017.

Minggu, 23 Oktober 2016

Knowledge is Power but Attitude is More


By the way, berbicara zaman tahun 80 an, itu adalah suatu decade dimana Indonesia belum lama pulih dari mimpi buruk panjang yang bernama perang, anak-anak memiliki hak sepenuhnya untuk menikmati masa kecil mereka, di masa itu kami bebas mengeksplor alam yang Tuhan sediakan untuk umat manusia, belum ada gedung-gedung pencakar langit, tidak ada cluster di dunia pendidikan sehingga semua orang punya hak yang sama. Kami tidak mengenal full day school, tidak ada anak SD yang pergi les, apalagi bermain gadget. Kami saat itu adalah sekumpulan anak manusia yang puas bermain dan mengeksplorasi alam pemberian Tuhan.

Aku di masa itu, selalu sibuk bermain. Setiap sepulang sekolah aku ceburkan badanku tepat ke dalam sungai bersih itu. Meskipun kedalamannya tidak sesuai dengan tinggi badanku dan teman-temanku, namun kedalaman itu tak bisa mengubah semangatku untuk bermain, sembari tak lupa mengambil beberapa kerang air tawar untuk ku mainkan di rumah. 

Pegunungan yang dipenuhi pohon-pohon besar membuat dahan-dahan kering yang diterpa angin turut berjatuhan, dahan-dahan kering itulah yang kami jadikan kayu bakar, kami semua memakai tungku untuk memasak. Kompor alami dimana sambil memasak kami juga bisa membakar singkong sebagai makanan pengantar sebelum kami makan nasi berikut sambal terasi dan juga ikan asin yang dibakar. Nyaris tanpa minyak, kata kolesterol adalah sebuah kosa kata yang tak dikenal di daerahku saat itu.

Jika musim panen padi tiba, maka kami anak-anak kecil pergi ramai-ramai menghampiri orang tua kami disawah, membawakan padi hasil panen mereka, menunggu jemuran padi itu sampai pipi kami ikut memerah dan matang, jika padi sudah kering maka disimpan di lumbung-lumbung padi rumah kami. Sampai musim menanampun tiba, semua orang berbondong-bondong membajak sawah, kami pasukan anak desa tak lupa turut meramaikan dengan berburu belut sawah sampai sore bahkan sambil hujan-hujanan. 

Sorepun datang, sambil menunggu waktu magrib tiba, kami saling mendatangi rumah satu sama lain untuk mengajak bermain bersama, segudang permainan tradisional khas sunda, pasti akan selalu kami mainkan. Dan aku rasa, permainan itu jauh lebih menarik dan mencerdaskan kami dibanding play station dan game online seperti sekarang.

Demikian masa kecil kami berlalu dengan penuh kesibukan, pagi sekolah SD, siang sekolah agama dan malam mengaji, kami sangat sibuk memuaskan diri bereksplorasi, berpetualang dengan alam, kami tidak mengenal kata les, psikologi, therapy apalagi sekolah inklusi.

Namun awal 90-an kotak ajaib itu muncul juga, kami mulai betah tinggal di rumah, menyaksikan acara-acara televisi yang menghibur dan menarik, mulailah kami mengenal ninja hatori, sailormoon, trio kwekkwek, tralala-trilili, wiro sableng, si buta dari goa hantu dan kera sakti, dll. Namun semua itu masih sejalan dengan pola permainan masa kecil kami, lagu-lagu anak, film-film anak yang semuanya semakin menambah harmonisme dunia kami sebagai bocah ingusan. Sungguh masa kecil yang sangat menyenangkan.

Sekarang, zaman sudah jauh berubah, pandangan orangtuapun sudah tak se-simpel dulu yang bisa membiarkan anak-anak bermain kapan saja. Aku berada pada masa dimana populasi anak berkebutuhan khusus (ABK) jauh berkembang pesat, aku berada pada masa dimana sekolah-sekolah inklusi tak mampu lagi menampung anak-anak korban kesibukan orang tua mereka, aku berada pada masa dimana anak tak punya ruang untuk bergerak, mereka anak-anak malang itu menghabiskan waktu sehari penuh duduk manis di dalam ruangan yang bernama full day school, dilanjutkannya les-les setelah sekolah sampai badan mereka lelah dan tak sempat shalat magrib apalagi belajar membaca AL-Quran.

Aku berada pada masa dimana anak-anak yang libur sekolah berdiam diri di rumanya, asyik bermain game dari gadget yang dibelikan oleh orang tua mereka, mereka jauh dari alam, beberapa dari mereka memiliki IQ yang tinggi namun jomplang jika dibandingkan mental dan kecerdasan social se-usia mereka yang harus mereka miliki.

Lantas apa maksud Allah menjadikan dunia ini begitu tak berpihak pada mereka anak-anak malang, tidak ada yang harus digugat dari takdir Tuhan, tidak juga ada yang salah dengan ketetapan-Nya, Tuhan sudah memberikan masalah berikut solusinya.

Dimasa ini, kita sebagai generasi muda yang pernah merasakan bagaimana indahnya menikmati masa kecil tanpa banyak ketakutan, dituntut untuk menciptakan sebuah oase kebahagiaan bagi anak-anak ditengah arus pengaruh teknologi yang membombardir kecerdasan alami mental, intelektual dan spiritual anak. 

Dimasa ini pula, kita dituntut untuk mengembalikan pola pergaulan anak-anak agar bisa sesuai dengan masa perkembangan biologis dan psikologisny. Anak-anak di masa ini, bermain di rumah sendiripun berbahaya,  terlebih jika televise terus dinyalakan, informasi beritapun sungguh sangat mengkhawatirkan, hanya sedikit muatan informasi prestasi anak negeri yang diekspos, sisanya hanya berisi informasi criminal yang semakin menginspirasi masyarakat lemah iman untuk berbuat yang serupa, tayangan-tayangan gossip dan tak lupa sinetron-sinetron khas anak muda yang penuh dengan habit berpacaran dan permusuhan yang selalu diketengahkan. Tak heran jika remaja zaman sekarang cepat tumbuh dewasa secara biologis namun jauh dari dewasa secara psikologis. 

Dibalik itu, anak-anak di masa sekarang ini jika bergaul dengan teman, justru semakin mengkhawatirkan. Tak sedikit siswa-siswi SD yang menggunakan nama binatang sebagai spasi dalam pembicaraannya, kata-kata kasar seolah terdengar lebih gaul dan bersahabat. 

Seperti buah simalakama, serba salah. Terlebih jika kedua orang tua bekerja, tidak punya back ground  pemahaman agama dan ilmu parenting yang baik, maka tunggulah kehancurannya. 

Jika dulu tahun 90-an awal kami menonton televisi berjam-jam, hal itu nyaris sedikit bahkan taka da ekses yang ditimbulkan pada diri anak, karena berita-berita di televise pada masa itu, hanya menayangkan harga beras, cabai dan bahan-bahan pokok dalam negeri jauh dari berita pembunuhan, korupsi apalagi kekerasan seksual.

Dalam Islam sendiri, manusia lahir dalam kondisi fitrah artinya memiliki potensi dan kecenderungan lebih besar untuk berbuat baik, anak jauh lebih mudah diarahkan berbuat baik dibanding orang dewasa yang sudah memiliki berbagai macam referensi pemahaman. Artinya, orang tua harus memiliki kemampuan spiritual dan skill yang jitu untuk membentuk pemahaman karakter anak, mengapa dia harus jujur, mengapa dia harus bertanggung jawab, mengapa dia harus disiplin, mengapa dia harus menghormati orang lain. Semua itu difahamkan oleh orang tua kepada anaknya dengan berbagai metode baik yang berupa portofolio, simulasi atau contoh langsung dari orang tua, bagaimana mereka menyikapi permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi.

Allah SWT berfirman:
“Dan hendakhlah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. (QS An-Nisa: 9) 

Ada beberapa hal penting yang perlu diketengahkan dalam rangka membentuk pribadi anak yang memiliki karakter di tengah arus kebebasan seperti sekarang ini, dimana hal utama dari yang paling utama adalah menjadi orang tua yang memiliki pemahaman, penerapan dan budaya yang baik dalam bidang agama dan ilmu parenting. Memiliki basic agama, ilmu dan akhlak yang baik dari kedua belah pihak (ayah dan ibu) akan jauh lebih baik dan lebih mudah dalam membentuk keperibadian anak. Karena jika ayah dan ibu mereka baik (saleh atau salehah) maka anak akan sering menyaksikan bagaimana orang tua mereka berperilaku dalam kehidupan nyata. Hal ini akan menjadi referensi penting bagi si anak, bagaimana mereka bersikap dalam menghadapi masalah kelak ketika mereka bersikap saat dewasa.

Ingat!, anak adalah penerus cita-cita. jangan sampai orang tua hanya mementingkan nutrisi dan berat badan sang anak atau sandang, pangan dan papannya saja. Karena semua itu hanya berbentuk materil. Yang akan sampai ke akhirat, salah satunya adalah do’a anak saleh, bukan warisan perusahaan yang bernilai milyaran.
Rasulullah SAW membagi pola pengasuhan anak menjadi 3 fase:

Usia 0-6 tahun, perlakukan anak sebagai raja

Memperlakukan anak sebagai raja adalah bukan berbarti melaksanakan semua yang mereka inginkan, akan tetapi, sebagaimana bila kita lihat di ruang lingkup kerajaan. Sang raja memiliki otoritas dan hak yang utama dalam meng-eksekusi setiap ide dan gagasan orang-orang di sekelilingnya, selama tidak bertentangan dengan prosedur atau AD-ART yang berlaku di kerajaan tersebut, sesuai dengan kemampuan finansial kerajaan tersebut. Selanjutnya, memperlakukan anak sebagai raja adalah mengutamakan kepentingannya selama mendukung terhadap tumbuh kembangnya, tidak memanjakan tanpa membatasai apa yang mereka inginkan. Perlakukan mereka sebagai raja, sesuai kemampuan orang tua itu sendiri, tidak semua yang mereka inginkan harus dipenuhi, karena ada kalanya manusia harus belajar untuk memenej rasa kecewa, karena tidak mendapatkan apa yang diinginkan.

Usia 0-3 tahun

Dari semenjak bayi, orang tua harus membiasakan berbicara baik dan fasih kepada anak. Mendongeng dan menceritakan kisah-kisah inspiratif terutama di saat menjelang anak tidur dan dalam kondisi alfa, terlepas dari sang bayi mengerti atau tidak, ceritakan saja kisah itu!. Biasakan anak mendengar kalimat-kalimat yang baik, seperti kalimat dzikir, shalawat dan bacaan quran. Ingat! Nasihat yang paling kepada anak adalah TELADAN.

Setelah anak mampu berjalan, berikanlah dia berbagai kesibukan yang sesuai untuk anak, jauhkan dari pengaruh televisi. Temani dia bermain!. Beberapa orang tua memberikan kesempatan kepada anknya untuk menonton tv, karena dengannya anak menjadi diam dan tidak rewel. Padahal, sekalipun anak ditemani menonton tv dan orang tua bisa menentukan program apa saja yang boleh ditonton, kenyataanya orang tua tidak mampu memilih iklan apa saja yang tayang di sela program tv tersebut.

Dekatkan anak dengan aktivitas fisik indoor, seperti menyusun puzzle, bermain play doh atau plestisin dan segudang permainan indoor lain yang jauh lebih berguna dibandingkan dengan menonton tv atau memainkan gadget yang semakin mendorong anak menjadi pasif.

Usia 4-6 Tahun
Di usia ini, anak sudah tumbuh menjadi sosok kritis dan pemikir, anak akan mulai bertanya kenapa begini-kenapa begitu, di masa ini orang tua dituntut untuk bisa memfasilitasi semua kepentingannya. Berikan penjelasan-penjelasan logis mengenai pemahaman yang ditanamkan. Contohnya, anak sering kali bertanya. Bunda, katanya Allah itu ada, tapi kenapa kita tidak bisa melihat Allah? Maka orang tua harus menjawab dengan logis, lebih baik jika dengan eksperimen shingga membuat anak jauh lebih faham. Jauhkan anak dari penjelasan-penjelasan abstrak dan sastra. Kita bisa menjawab pertanyaan anak tadi dengan bereksperimen mencampurkan beberapa sendok gula pasir ke dalam air panas yang kita simpan di dalam gelas bening yangmemungkinkan terlihat oleh anak. Kita aduk sampai gulanya larut dan tidak ada sedikitpun yang tersisa, kemudian giliran kita bertanya kepada anak. Kemana gulanya? Anak biasanya akan menjawab, “sudah tercampur dengan air”, kemudian kita bisa Tanya lagi. Jadi gulanya ada atau tidak? Mereka bisa menjawab “tidak”, kemudian kita bisa minumkan air hangat itu ke anak kita dan tanyakan, apa rasanya? Mereka akan menjawab “manis”, jadi gulanya hilang?, mereka akan menjawab “tidak, gulanya tidak hilang, tapi tidak ada, tapi terasa” dan sejumlah pendapat mereka. Setelah itu baru kita jelaskan, sesuatu yang tidak terlihat bukan berarti tidak ada, seperti gula ini. Gulanya memang sudah tidak terlihat tapi masih terasa. Sama halnya dengan Allah, Allah juga tidak terlihat oleh mata kita, tapi perannya terasa. Terakhir, kita bisa bertanya kepada anak kita, kamu yakin kalau Allah ada?, maka 100 % saya jamin anak akan menjawab “yah ADA”.
Contoh diatas hanya merupakan satu dari ribuan simulasi kecil yang bisa kita gunakan untuk memahamkan anak. Anak di usia 4-6 tahun harus memiliki berbagai macam aktivitas yang langsung terkoneksi dengan alam, hal ini akan membuat mereka lebih terlatih secara kinestetik dan lebih kebal secara imunitas. Hindari kata jangan, agar rasa penasaran dan antusiasnya tidak hancur. Jika mereka berbuat kesalahan, misalkan: dengan atau tanpa sengaja memecahkan gelas atau menumpahkan air, maka kita tidak usah memarahi mereka, karena hal ini akan membuat anak takut untuk berkata jujur. Usahakan jika hal-hal semacam ini terjadi suasana tetap tenang, dan bagaimana jika kita ingin menanamkan rasa tanggung jawab terhadap anak, agar dia bertanggung jawab dengan kesalahan yang dilakukannya? Maka ajaklah anak untuk membereskannya bersama-sama, contoh: “ooo ada gelas yang pecah yah..! gapapa, ayo kita ambil sapu dan kresek biar kita bereskan bersama”. Dengan begitu anak akan langsung membantu ibunya membawa sapu dan membersihkannya bersama. Dari hal ini dia akan belajar bahwa JUJUR itu bukan hal yang menakutkan, jika bersikap jujur, maka akan diindungi oleh orang-orang di sekelilingnya.

Disamping itu, beruntunglah kita sebagai orang Indonesia, yang memiliki ribuan permainan tradisional untuk anak, ajaklah anak kita untuk bermain permainan tradisional, bukan hanya sesekali, kalau bisa sesering mungkin. Karena permainan tradisional zaman dulu mampu meningkatkan kecerdasan kinstetik, logika dan kepekaan social anak. Orang tua juga dimohon untuk senantiasa menjelaskan makna filosofi yang terkandung dalam permainan itu. Sebagai contoh, anak kita ajak untuk bermain paciwit-ciwit lutung. Dalam permainan ini, posisi tangan anak akan dicubit oleh kita, dan tangan kita pun akan dicubit oleh tangannya, dan seterusnya intinya adalah saling mencubit. Kita bisa menjelaskan kepada anak, bahwa jika kita menyakiti orang lain, maka akan ada orang lain juga yang akan menyakiti kita, dengan demikian anak memiliki pemahaman bahwa “saya tidak boleh menyakiti orang lain”. Dan masih segudang permainan tradisional lain yang murah meriah dan penuh manfaat yang bisa anak mainkan, seperti congklak yang mengajarkan filosofi menabung, sondah yang mengajarkan tentang rambu-rambu hidup dalam mencapai sebuah tujuan. Dll.

Ingat!, di usia ini perlakukan mereka seperti raja, minat dan rasa penasarannya harus terpuaskan dengan penuh bimbingan dan arahan, karena hal itu yang akan dijadikan referensi berfikir mereka. Jika referensi berfikir mereka adalah iklan atau sinetron, maka mereka akan bersikap seperti dalam sinetron.

Berkata baik, memberi teladan yang baik, dan membentuk budaya yang baik pasti akan butuh waktu yang panjang, bukan sehari-dua hari, sebulan-dua bulan tapi bertahun-tahun. Bersabar dalam menanamkan budaya baik terhadap anak tentu akan jauh lebih berdampak, seperti mengajarkan mereka shalat bersama, mengaji bersama, bercerita bersama sampai toilet training. Semua itu butuh pengorbanan yang luar biasa. Selamat mencoba!

·         Usia 7-14 tahun, perlakukan sebagai tawanan perang

(Perintahkan anak-anakmu untuk shalat . saat mereka telah berusia 7 tahun, dan pukullah mereka jika meninggalkannya ketika mereka berusia 10 tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka) HR Abu Daud.


Di masa ini, anak harus sudah mulai diperkenalkan dengan kedisiplinan, kemandirian, komitmen waktu dan kesadaran. Anak di masa ini sudah dikenalkan dengan dunia sekolah, dan mengenal system di luar rumah mereka. Anak biasanya lebih mengikuti apa kata guru dibanding dengan apa kata orang tuanya, mereka mulai memiliki teman dan lingkungan sendiri.

Menanamkan disiplin pada anak bisa dimulai dengan melatih mereka untuk shalat lima waktu dari usia TK, dan jika sudah tujuh tahun masih sulit diajak untuk shalat maka Rasul memerintahkan kita untuk memukul. Pertanyaannya? Apakah Islam memperbolehkan kita melakukan kekerasan terhadap anak? Jawabananya adalah TIDAK. Rasulullah bersabda seperti hadits di atas, padahal Rasul sendiri tidak pernah memukul anak atau cucunya. Artinya dalam hal ini, kita dibenarkan untuk marah jika anak tetap tidak mau diperintah untuk shalat setelah diperintah berkali-kali. Marah adalah suatu ekspresi wajar yang keluar dari tubuh manusia manakala apa yang ada dihadapan mata tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki, artinya orang tua diperbolehkan marah selama bertujuan baik, yang tidak diperbolehkan adalah KASAR, apalagi sampai memukul anak bahkan bersumpah serapah dan menyebutnya dengan sebutan yang tak pantas. Marah disini merupakan ekspresi KETEGASAN sebagai orang tua kepada anak, sebagai pemimpin dalam menegakan aturan rumah dengan benar. Saat ini, banyak kasus orang tua yang memarahi anak dengan penuh kekerasan baik fisik maupun verbal, seperti memukul, memarahi anak di depan umum, atau dengan sengaja melaporkan kejelekan anak kepada ayah atau neneknya, seperti misalnya: ibu menelpon ayah atau nenek si anak di depan anaknya sendiri dan bilang ditelponnya “ayah nii anak ayah nii bandel” atau “nenek, ni neek cucunya nakal nii” dsb. Itu semua hanya akan membuat anak menjadi semakin merasa dibully di dalam rumahnya sendiri. Maka jangan marah, jika anak dibully di luar rumah. Karena orang tua di rumahpun juga sudah membullynya.

Kita dituntut untuk bersikap tegas, jika kita dari awal melarang penggunaan gadget, maka sampai kapanpun akan tetap dilarang. Jangan karena anak nangis histeris, kita jadi membolehkannya karena tak kuasa menyaksikan tangisan dan amarah mereka. Jika kita memberikan gadget itu pada akhirnya, maka orang tua menjadi tidak konsisten terhadap aturan. Tak peduli anak merengek, menangis bahkan mengamuk sekalipun, jika dari awal aturannya tidak boleh, maka sampai kapanpun harus TIDAK BOLEH. Dengan demikian, anak akan belajar tentang sebuah ketetapan nilai, konsistensi hukum dan komitmen pelaksanaan hukum.


Selanjutnya adalah menanamkan kemandirian. Sejak usia tujuh tahun anak sudah bisa diberikan tanggung jawab harian, mingguan, bahkan mungkin bulanan. Sebagai contoh anak dipersilahkan untuk memelihara kelinci atau kura-kura dsb, asal siap bertanggung jawab membersihkan kandang, memberi makan dan memandikan hewan peliharaan tersebut. Berikan anak tugas harian, seperti merapihkan tempat tidur. Terapkan reward dan punishment kepada anak di usia ini, misalnya dengan tidak memberi uang jajan apabila tempat tidur tidak dirapihkan, dst. Hukum mereka jika berbuat kesalahan, misalnya di time out (dikeluarkan dari rumah selama satu jam). Usia kelas 1-3 SD, Jika anda berencana memberikan uang jajan kepada mereka, berikan jatah yang jelas perharinya, misakan: Rp. 5.000,- perhari, maka anak harus cukup Rp. 5.000 sehari itu. Jangan memberi mereka uang tambahan bahkan jika mereka menangis. Biarkan saja. Agar mereka belajar mengatur uang bukan diatur uang.

Anak usia kelas 10 sampai 14 tahun, berikan mereka tanggung jawab yang lebih besar di rumah misalnya, kakak bertanggung jawab mengepel lantai dan mencuci piring, adik bertanggung jawab menyapu dst. Sekalipun anda punya pembantu di rumah, jangan biarkan anak dibantu atau bahkan menyuruh-nyuruh pembantu, karena yang berhak menyuruh pembantu hanya ayah dan ibu. Anak tidak ikut membayar pembantu jadi tidak boleh menyuruh-nyuruh pembantu se-enaknya, kecuali kasus-kasus tertentu dimana anak butuh pertolongan. Usia ini anak bisa diberikan tanggung jawab mencucui pakainannya sendiri. Dengan demikian, kemandirian dan tanggung jawab akan terbentuk.

Usia ini, anak bisa diberikan uang jajan pertiga hari atau lebih bagus perminggu supaya mereka belajar memenej keuangan. Buatlah jadwal pembelian buku atau mainan yang disepakati oleh keluarga, misalkan: setiap tanggal lima. Upayakan setiap sehabis magrib, seluruha anggota keluarga berkumpul, kegiatan bisa diisi dengan mengaji bersama, kemudian dilanjutkan dengan bercerita secara bergiliran mengenai apa yang terjadi di sekolah mereka, presentasi atau kultum dll. Sampai dilanjutkan dengan shalat isa berjamaah dan diakhiri dengan bersalaman dan meminta maaf satu sama lain atas kesalahan yang telah dilakukan di hari itu.

Pemaparan di atas memang baru permukaannya saja, tapi insyaAllah bermanfaat. Ingat!

Marah boleh
Yang tida boleh
kasar
Lembut boleh
Yang tidak boleh
Lembek
Tegas boleh
Tapi harus
Tega

Memperlakukan anak sebagai tawanan artinya bukan memperlakukan mereka dengan siksaan dan makian, namun mendidik mereka bagaimana membangun kedisiplinan, komitmen, tanggung jawab, kejujuran, transparansi dan kepercayaan satu sama lain. Hingga puncaknya, kita baru bisa dibilang orang tua hebat, manakala anak mau menceritakan tentang urusan pribadi mereka seperti kalau perempuan tentang masalah menstruasi mereka atau cinta pertama mereka, atau jika itu anak laki-laki bercerita tentang mimpi basah atau bahkan wanita yang anak itu sukai. Jika anak sudah nyaman di dalam rumah, maka dia tidak akan mencari konsultan lain dalam hidupnya mengenai masalah-masalah yang terjadi dalam dirinya. Saya acungi jempol deh buat orang tua kaya gini. Neeeexxxxttttt……

Usia 15-21 tahun (sahabat)
Di usia ini anak sudah memiliki banyak referensi berfikir dan sudah memiliki lingkungan lain yang jauh lebih luas, mereka mulai membanding-bandingkan kondisi mereka dengan temannya yang boleh jadi lebih kaya dan lebih cantik atau tampan, dsb. Biasanya di usia ini, anak akan mulai menuntut orang tua untuk dibelikan ini dan itu.

Nah, dimasa inilah orang tua diharapkan menjadi sosok sahabat bagi anak, anak harus bersahabat dengan ayah atau ibu. Dengarkanlah keluh kesahnya, dan ajaklah mereka bicara dengan kepala dingin, mulai dari pembicaraan ringan sampai ke arah serius. Sesekali anak lelaki mungkin bisa di ajak kemping oleh ayahnya, supaya anaknya tahu, kalau ayah adalah sosok yang bersahabat, berbicara dari hati-kehati (obrolan lelaki). Demikian sebaliknya, ibu membawa anak perempuan ke tempat-tempat yang biasa dikunjungi kaum perempuan, mungkin belanja bersama, memasak bersama atau pergi bersama dll. Dengarkanlah keinginan mereka, jika kita mampu maka mungkin bisa memberikannya dengan syarat-syarat tertentu, namun jika tidak, maka sampaikan permohonan maaf dan jelaskan kondisinya seperti apa. Maka saya yakin, merekapun akan mengerti.

Anak yang memberontak dan bahkan sampai berani mencelakai orang tuanya sendiri atau mungkin kabur dari rumah, adalah sebuah cerminan betapa minimnya komunikasi antara orang tua dan anak, minimnya pendekatan dan kurangnya pengertian. Hingga jangan salahkan anak, jika mereka mencari lingkungan lain yang jauh lebih nyaman untuk mereka dibanding rumah mereka yang hanya berisi sekumpulan orang tua yang tak mau mendengarkan isi hati mereka. Jangan salahkan mereka jika mereka tumbuh menjadi pemimpin-pemimpin yang korup, tidak bertanggung jawab, bos yang kejam atau bahkan penjajah dilingkungannya, karena tanpa sadar dari kecil mereka sudah dibiasakan disogok dengan ice cream asal jangan rewel, memerintah pembantu se-enaknya, kabur karena tidak diberikan handphone terbaru dll.

Mendidik anak adalah sebuah pengorbanan besar, ada sebagian orang yang mengorbankan waktu dan pikirannya di awal dan menikmatinya dimasa anak tumbuh dewasa. Ada juga sebagian orang yang berkorban di akhir, orang tua tipe ini meninggalkan anak saat mereka masih kecil dan kembali pada anak saat mereka sudah dewasa dan membuat sejumlah kekacauan, karena anak terlanjur tak faham apa arti kejujuran dan tanggung jawab. Yaaaahhhh sama-sama melelahkan, ada yang memilih lelah di awal, ada juga yang memilih lelah di akhir.

Catatan di sela libur akhir pekan. Antapani (23 Oktober 2016)


Sumber rujukan:
1.      Al-Quranul Kariim
2.      Al-Hadits
3.      Auladi.org
4.      Felix Xiau
5.      Hoongcomunity.org