Selasa, 10 Maret 2015

Mukjizat yang terlupakan


Aku adalah manusia, manusia yang terdiri dari berbagai macam organ, yang dengan fase alaminya, aku tumbuh dari seorang bayi merah menjadi balita, anak-anak, remaja sampai saat ini mungkin aku telah dikatakan dewasa secara rentang usia manusia. Usia yang terus menerus bertambah tua, angan-angan yang semakin panjang, kebutuhan hidup yang semakin bertambah dan arogansi yang semakin tinggi.

Aku berasal dari segumpal darah yang membelah sel hingga menjadi segumpal daging, kemudian tiba-tiba saja di dalamnya ada tulang, jadilah tulangku terbungkus daging, kemudian sel-sel itu otomatis dengan sendirinya membentuk organ-organ penting seperti mata, telinga, rambut, kaki, tangan dan lain-lain. Sel baik itu tidak pernah salah koordinasi dan intervensi tugas satu sama lain, mereka begitu harmonis dan focus dengan tugasnya masing-masing, karena akulah salah satu diantara sebaik-baik bentuk itu, sampai suatu hari tanggal lima agustus 1989 aku dilahirkan sebagai seorang bayi yang dititipkan kepada seorang ibu yang mulia.

Selama lebih dari 25 tahun perjalanan hidupku di dunia ini, aku sering lupa akan siapa diriku, dari mana asalku dan yang paling penting, akan kemana kembaliku? Sering kali diri ini berdalih untuk menjauh dari pemikiran itu, walau kadang ada yang mengingatkan, tetap saja diri ini sering pura-pura lupa dengan hal itu dan semakin tak peduli, sampai akhirnya sifat lari dari tanggung jawab itupun menjadi karakter yang melekat dan mendarah daging, enggan mengingat dan selalu menghindar jika ada orang yang mengingatkan.

Namun Allah Yang Maha Penyayang itu masih memberikan kesempatan itu padaku, kebaikan-Nya senantiasa meluangkan kesempatan untukku, ah.. mungkin saja makhluk-Ku yang durhaka ini akan bertaubat besok, mungkin lusa, mungkin minggu depan, atau mungkin bulan depan? Kebaikan-Nya memberikan kesadaran kepadaku setelah aku menyi-nyiakan hidupku selama lebih dari seperempat abad? Aku tak pernah berusaha mengenal-Nya, namun Dia mengingatkanku akan tempat kembaliku dengan surat cinta-Nya. Sungguh aku malu

Dia memintaku untuk merubah kebiasaan buruku sebelum datang suatu hari yang tak dapat ditolak kedatangannya, jika tidak mau bernasib sama dengan orang-orang durhaka terdahulu, ini dia surat cinta itu:

katakanlah (Muhammad): berpergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan Allah.”
“Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari (Kiamat) yang tidak dapat ditolak, pada hari itu mereka terpisah-pisah”

Ayat ini Allah tujukan untuk orang-orang yang durhaka sepertiku, agar dengan kesadaran minimnya mau bertaubat, dan menjauh dari kebiasaan buruk dan ingkar, orientasiku sering berbelok tak karuan, aku iri dengan orang-orang yang bisa beristiqamah dalam kesalihan, sementara aku hanya mendekati Tuhanku manakala aku ada kebutuhan, aku seperti pengamen yang berusaha menyanyi semerdu mungkin untuk menarik perhatian yang mendengar, tapi setelah orang yang terhibur itu memberikan uangnya padaku, aku langsung menerimannya dan pergi. Sekali lagi. Hanya datang saat butuh.

Ya Rabbi, sungguh aku akan berusaha menghadapkan wajahku hanya pada-Mu, walau terseok-seok, aku akan tetap berusaha

Oh Allah, hamba mohon, kembalikanlah hamba dalam keadaan khusnul khatimah dan wafatkanlah hamba bersama orang-orang yang berbakti kepada-Mu. Amiin

Rabbanaa taqabbal minna, innaka antas samii’ul ‘aliim

Selasa, 21 Oktober 2014

Menukar Sejarah



Sejarah merupakan mata pelajaran paling menjemukan saat aku duduk di bangku SMP, bukan karena guruku tak pandai menjelaskan, hanya saja mungkin aku yang terlampau tak faham apa gunanya. Begitu juga ketika aku masuk sekolah di tingkat SMA, sejarah bagiku hanyalah kepingan batu berpasagan yang kehilangan pasangannya, tak ada kewajiban bagiku mencarinya. Apa gunanya?

Namun ada potret lain dari pelajaran sejarah ketika aku duduk di bangku akhir SMA, dulu di sekolahku memang ada dua guru sejarah, 1 sejarah nasional dan 1 lagi sejarah pendidikan Islam (SKI). Dari kedua pelajaran itu, hanya ada 1 guru yang menjadi favoritku, sampai saat ini kisah penaklukan Andalusia (Spanyol) oleh tentara Islam yang dia jelaskannya, sungguh masih melekat di otaku. Peristiwa berharga itu, dia kisahkan kepada kami di tengah hari siang bolong dengan nada heroic dan sesekali diselingi dengan sifat jenakanya. Dialah Ust. Herlan Sudarsa, namanya sungguh melekat. Darinyalah aku mulai menyukai sejarah.

Semenjak saat itu, aku mulai memiliki paradigma yang berbeda tentang sejarah. Aku mulai berfikir bagaimana caranya supaya aku mengenal sosok-sosok muslim hebat zaman dulu. Aku mulai penasaran dengan kehebatan mereka.

Saat masuk ke dunia kuliah, aku semakin menyukainya saja, beberapa kali ku ikuti seminar tentang sejarah di Bandung, semakin hari aku pun semakin takjub, dan semakin pariatif saja cara Tuhan memberi hidayah kepadaku melalui sejarah.

Dia memperkenankan aku berkenalan dengan teman yang juga sama-sama menyukai sejarah, dia punya buku berikut film-film sejarah. Membeli buku tebal dan berkwalitas adalah suatu kemustahilan untuk mahasiswa pas-pasan sepertiku, akhirnya aku memberanikan diri untuk meminjam pada temanku. Ingin sekali rasanya aku menonton film-film sejarah yang dia miliki, namun apa daya, aku tak punya computer apalagi laptop untuk menunjukan wujud file-nya waktu itu.

Aku mulai melahap habis semua buku-buku itu, aku semakin gila sejarah, setiap mata kuliah sejarah, nilaiku pasti selalu bagus, seiring waktu Alhamdulillah Tuhan memperkenanku memiliki laptop, dan file-file yang dulu usang karena hanya di simpan di flashdisk, kini dia bisa menunjukan senyum meronanya di hadapanku. Kubuka file demi file, aku ternyata memang maniak sejarah. Mulai dari durasi film yang 2 jam sampai yang 18 jam semuanya kulahap habis dalam waktu hanya beberapa minggu.

Aku senang, sungguh di dunia ini ada segelintir orang yang memvisualkan sejarah, sehingga bisa diingat oleh orang-orang yang anti auditori sepertiku. Itulah visualisasi sejarah sungguh hebat.

Namun ditengah perjalananya, semakin aku faham, semakin kontroversi sejarah versi satu dan versi lain. Sebagi contoh, ada dua buku yang membahas sejarah proklamasi bangsa Indonesia. Dibuku pertama di jelaskan bahwa proklamasi terjadi karena Jepang telah menyerah dengan sekutu, dimana bung Karno sebagai bapak proklamator yang namanya masih harum sampai detik ini sungguh tak tergantikan jasanya.

Sementara itu dibuku lain, perjuangan perebutan Indoensia dari tangan penjajah merupakan jerih payah para ummat Islam Indonesia yang mati-matian melawan para penjajah dan orang-orang pribumi yang berpangku tangan dengan penjajah. Saat itu mulailah intuisiku berjalan, mengapa ada dua versi? Apakah standar penelitiannya berbeda?

Seketika di saat jam mata kuliah metode penelitian kutanyakan pada sang dosen Bpk. Abbas (Pakar Kualitatif dari Un. Hasanuddin Makasar). “Bpk, mengapa dalam satu objek penelitian ada dua hasil yang berbeda, apakah standar penelitiannya berbeda? Atau apakah bukti-bukti menunjukan berbeda? Sebagai contoh di pelajaran sejarah bla-bla-bla” Sambil menarik nafas dalam-dalam, Bpk. MetLit mulai menjawab. “Hasil penelitian pada metode kualitatif memang bergantung kepada si peneliti itu sendiri, walaupun dengan metode yang sama dua kepala pasti akan menitik beratkan pada hal yang berbeda” begitu ungkapnya.

Sejenak otak ku termenung, jika standar kebenaran sebuah fakta sejarah bersifat subjektif, bagaimana caraku untuk bisa menemakan kebenaran yang sesungguhnya terjadi, ini sulit berarti tidak ada yang bias kupercaya. #otaku mulai bekerja

Sepulang kuliah, aku bertemu lagi dengan teman sepadepokanku yang gila sejarah hee. Dia bilang kalau sejarah merupakan ilmu pengetahuan yang bisa digunakan sebagai alat propaganda yang efektif untuk membentuk opini public, oleh sebab itu sejarah akan selalu berpihak kepada siapa yang berkuasa. Karena disitulah si penguasa diuntungkan, dengan kata lain, paradigma berfikir masyarakat akan menganggap bahwa system yang berlaku saat itu adalah benar. Itulah sebabnya pelajaran sejarah tidak pernah dikurangi jamnya hingga saat ini dalam kurikulum pendidikan. Sebagai contoh, sejarah yang ditulis oleh ilmuwan Yahudi, mungkin akan menjelaskan bagaimana dulu Yahudi disiksa oleh rezim Nazi, mereka disiksa di camp-camp konsentrasi sampai mati, hal ini menggambarkan bagaimana orang-orang Yahudi memperjuangkan kebenaran mereka sampai datangnya sosok Albert Einstein yang menyelamatkan ras Yahudi dengan penemuannya. Dengan kata lain, kemajuan teknologi yang ada pada peradaban saat ini merupakan buah jerih payah bangsa Yahudi dan bangsa lain seolah tidak memiliki kontribusi apapun.

Contoh lain, ketika seorang yang menulis sejarah itu seorang Nasrani, mungkin dia akan menceritkan sejarah perjuangan bangsa Nasrani sampai mereka menjadi agama mayoritas 3 benua (Eropa, Amerika dan Australia), bagaimana kesucian para paus, uskup, pastor, biarawan dan biarawati menjadi agen-agen greja dilingkungannya.

Skandal-skandal yang pernah terjadi seolah terkubur, dipoles dengan karya-karya mereka yang diungkap secara hiperbola dan mendunia, sekali lagi seolah pihak lain tidak memiliki kontribusi akan peradaban ini.

Begitulah sejarah, satu-satunya ilmu pengetahuan yang memiliki seubjektifitas tinggi dan orang polos pasti akan menerimanya mentah-mentah. 

Subhanallah aku seperti tersambar petir, setelah puzzle demi puzzle itu kusambungkan, ternyata itulah sebabnya mengapa terjadi dualism fakta sejarah seperti saat ini. Lalu, bagaimana dengan ummat Islam? Fakta sejarah mana yang akan diambil sebagai sebuah pijakan suatu standar kebenaran. 

Sejarah memang bukan ilmu pasti, tapi pasti ada satu kebenaran berdasarkan fakta yang valid, ilmu yang bisa diverifikasi, mampu dipertanggungjawabkan, dan layak dijadikan gambaran sebuah perjuangan menegakan kebenaran dimasa silam. Waktu memang tak kan berulang, tapi peristiwa pasti terulang. Itulah inti sejarah, ia adalah potret pola perjuangan bagi kita, umat manusia setelahnya. Oleh sebab itu, wajib hukumnya, mengetahui esensi sejarah dari masa ke masa.

Berikut adalah beberapa alasan pentingnya agan-agan memahami sejarah:

1.        70 % muatan al-quran merupakan sejarah, dengan demikian Allah SWT pasti memiliki maksud tertentu. Ketika Allah menceritakan sebuah kisah dalam al-quran, baik berupa kisah perjuangan, kisah keberhasilan, kisah pembangkangan, dan sejumlah kisah lain yang Allah ceritakan berikut dengan penyelesaiannya, berupa balasan-balasan bagi tiap-tiap pelaku sejarah.
Berikut firman Allah dalam surah Yusuf ayat 111

Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Quran) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman
(Qs Yusuf: 111)

2.      Dengan memahami sejarah, kita bisa memiliki rasa optimism yang tinggi sebagai ummat Islam, mengapa demikian?, begini logikanya, jika pada saat ini ada bangsa lain yang menjajah dan membatasi ruang gerak ummat Islam, maka dimasa yang akan datang, kitalah yang akan memegang kendali atas dunia ini. Loh ko bias? PeDe amat? Buka PeDe tapi ini adalah efek beriman kepada Al-Quran. Heehee

Liat ayat ini deh, Cekidot.. Qs Ali-Imran: 104
Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada Perang Badr) mendapat luka yang serupa, Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami Pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah Membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang yang kafir) dan agar sebagian kamu Dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zalim” (Qs Ali Imran: 140)  

Gimana? Dahsyat banget kan ayat itu. Bener-bener penyejuk hati buat orang-orang beriman kaya kita, bikin optimis dan tambah semangat beribadah. Begitulah sunatullah, kemenangan adalah suatu yang dipergilirkan. (Subhanallah Mamah Dedeh)

Kalo kamu lihat ayat di atas, ayat itu memang mengkisahkan mengenai dua perang yang pada akhirnya, Ummat Islam berada pada dua buah hasil yang kontras. Menang dan kalah. Tapi guys, perlu kalian tahu bahwa kemenangan hakiki hanya akan Allah sematkan pada para pejuang-Nya, yang siap berperang membela Islam (Wuiiiih Sadis bahasanya), ntar gw dianggap ISIS lagi, heeehee peace ah.. oke gini deh biar simple, agan dengerin cerita ane bae-bae.

Soccer, atau cabang oleh raga yang paling digilai di dunia ini, para penggila bola ini akan rela membayar tiket semahal apapun, antri sepanjang apapun tentu tidak masalah, asalkan bisa melihat secara langsung acara berebut bola rame-rame itu,  ketika wasit meniupkan peluit tanda pertandingan dimulai, kedua kesebelasan siap merebut, mengover dan mencetak gol untuk saling mengalahkan satu sama lain.

Ketika ada seorang pemain yang berhasil mencetak gol berkali-kali ke gawang lawan, pasti semua timnya bangga, suporternya bangga, coach-nya bangga, lebih dari itu negaranya pun bangga.

Sebut saja Mesut, si Mesut berhasil menyabet rekor sebagai pencetak gol terbanyak dalam kurun waktu 10 tahun di dunia persepak bolaan dunia. Akhirnya FIFA memberikan apresiasi berupa sepatu emas kepada si Mesut, seluruh official dari tim si Mesut diundang secara khusus oleh FIFA. Sepatu emaspun diberikan secara langsung oleh CEO FIFA ke tangan si Mesut. Terdengar riuh tepuk tangan dari semua yang hadir di acara tersebut, terlebih ketika tim si Mesut disebut sebagai tim sepak bola terbaik dunia, dan tim juga berhak mendapatkan hadiah uang sebesar 500 juta dolar.

Sementara supporter dan komentator, tidak mendapatkan apapun, mengapa demikian? Karena mereka hanya penikmat dan penonton saja, sibuk bercuap-cuap mengungkapkan strategi penyerangan untuk membobol gawang lawan, tanpa sedikitpun pernah turun tangan untuk memperjuangkan tim kesayangannya.

Begitupula yang terjadi dengan sejarah, manakala agan-agan hanya bercuap-cuap atau bahkan cuman update status aja, niscaya tidak akan mendatangkan kemaslahatan apapun tapi jika agan memperjuangkan kebenaran, maka suatu saat akan ada tinta emas yang akan menuliskan pengorbanan agan. Allah akan mengundang kedalam syurga secara khusus bagi para pejuang yang gugur di dunia dalam rangka membela apa yang diinginkan-Nya.

Semuanya saya serahkan kepada agan, agan mau jadi pelaku sejarah atau penonton sejarah. Mumpung masih di dunia, we have so many choice.

Berbuat dan perjuangkan kebenaran semampu agan, sesuai dengan bakat dan potensi yang sudah Allah bekali kepada kita semua. 


Catatan sepulang kerja. Bandung. 21 Oktober 2014






Minggu, 06 April 2014

Ihdinas Shiraatal Mustaqiim

Awalnya ku kira puncak gunung itu hanya legenda dan mitos orang-orang terdahulu, semakin dewasa aku mencari dan mencari, oh ternyata gunung itu nyata dan bisa didaki siapa saja yang menignginkannya.

kemudian ku mencoba menapakkan kaki lemah ini dengan 20 % keyakinan dan 80 % nekat. Aku begitu khusuk menjalaninya, semaksimal mungkin ku buat mulus jalan itu, tanpa berbuat kesalahan di sepanjang jalan, namun ada saja ujian keindahan di pinggir jalan itu, ah kadang terfikir untuk mampir… namun Dia selalu menyadarkanku, kalau ini bukan pencarian harta karun, karena bukan itu sesungguhnya tujuan akhirku.

Di tengah perjalanan mendaki lagi gelap itu, dari kejauhan kulihat ada cahaya. Aku mencoba mendekatinya ohh subhanallah, betapa sempurnanya cahaya itu, semakin ku dekati sinarnya semakin terang, sehingga terlihatlah kesalahanku. Aku pun sigap merubah kompasku, berfikir dan memperbaiki arahku, ohh ternyata sulit, tapi pasti kan kucoba.

Dalam pendakian itu kadang ada badai, cuaca buruk, hujan deras dan panas terik tapi Dia segera mengirimkan embun yang menyegarkanku, mentari cerah dan kejaiban yang datang secara tiba-tiba, terkadang aku diberi-Nya puzzle yang potongan akhirnya baru kutemukan setelah aku terjatuh dari ketinggian, ku fikirkan lagi langkahku oh..mungkin barang bawaanku banyak yang tak berguna, lalu kutinggalkan sebagian, supaya punggungku tak terlampau berat.

Semakin kudaki, dadaku kian sesak badainya semakin kencang, bahkan oksigenpun terbatas, jalan mendaki lagi sukar itu ternyata jauh, entah kapan aku menginjak puncaknya, semoga tak ada yang menjemputku pulang sebelum aku menginjak puncak itu, tapi jika memang aku dijemput lebih awal mau bilang apa, aku ikhlas mempersembahkan karya sederhanaku dalam perjalanan menuju puncak-Nya.


Senin, 13 Januari 2014

Cikutra,13 Januari 2014/12 Rabiul Awal 1435 H

My Beloved Prophet Muhammad saw. (Miss you my prophet)

Hari ini adalah hari kelahiran junjunanku, tepatnya milad my beloved Prophet Muhammad saw, subhanallah manusia mulia itu sudah 1443 tahun lalu di lahirkan, dia telah berlalu dengan segala keindahan sifatnya. Ketulusan dan kemurnian tauidnya telah menerangi alam semesta.

Dia lah putra Abdullah yang walaupun jarak jauh memisahkanku dengannya, dia selalu mengingatku dan menghawatirkanku lebih dari orang tuaku, dia lah yang telah membuka pikiran dan mata hatiku, dialah yang telah membuat hidupku lebih indah, jelas dalam memandang, jernih dalam berfikir dan berusaha ikhlas dalam berderma.

Aku mungkin bukan ummat terbaiknya, tetapi aku selalu berdoa untuk menjadi pengikutnya, mencintai sunnahnya dan mengikuti jejaknya. Aku selalu rindu bertemu dengannya, aku selalu ingin menjadi ummat fanatiknya, menjadi pembela agama yang di bawanya dan menjadi seseorang yang di banggakannya.

Aku mencintainya, sungguh aku mencintainya. Sampai detik ini, aku tak pernah menemukan cinta setulus cintanya pada kami ummatnya, lebih dari cinta seorang ayah pada anaknya, sungguh aku memuja keperibadiannya, sangat mulia, sangat cerdas, sangat kharismatik dan yang paling penting, musuhpun mengakui kehebatannya.

Aku hanyalah seorang wanita polos yang mungkin belum merasakan pahitnya perjunganmu, aku hanya seorang anak manusia yang belum merasakan indahnya pengabdianmu kepada Rabb kita, aku juga hanya seorang manusia lemah yang belum tahu cara bersyukur sebagaimana engkau bersyukur.

Tapi aku selalu berusaha untuk menjadi seperti itu.

Aku adalah seseorang yang masih memiliki segudang penyakit hati yang akut, aku adalah akumulasi tulang dan daging yang masih ketakutan jika suatu saat potongan-potongan daging dan tulang itu di minta pertanggung jawaban, aku adalah setitik makhluk di bumi yang masih merusak titik-titik yang lain, aku masih makhluk kotor yang belum faham bagaimana membersihkan diri.

Tapi aku akan berusaha untuk keluar dari zona itu.

Ya Hadii..

Jadikanlah aku pengikut kekasih-Mu, yang senantiasa mengabdi kepada-Mu dalam kondisi lapang maupun sempit, menjadi makhluk-Mu yang senantiasa bertasbih mengagungkan nama-Mu dengan setiap kata dan tindakanku.

Jauhkanlah aku dari perbuatan dosa yang dapat menjerumuskanku, jagalah aku dari setiap kemaksiatan yang mendekatkanku kepada neraka-Mu.

Ya Shammad..

Istiqamahkanlah aku di dalam diin-Mu, menjadi pembela agama-Mu sampai akhir hidupku, menjadi barisan terdepan dalam menegakan haq-Mu, golongknlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shaleh, yang senantiasa bersyukur atas setiap anugrah-Mu, bimbinglah aku, jangan sesatkan aku.

Ya Rabbanaa, istajib du’aanaa

Rabbi hablii hukma, wa alhiqnii bis shaalihiin

Rabbanaa laa tuzig quluubanaa ba’da idzhadaitanaa, wahablanaa min ladunka rahmah innakaa antal wahhaab. Amiin ya rabbal aalamiin.


Minggu, 07 Juli 2013

Pelajaran Berharga dari Totto Chan



Hari ini adalah hari jumat, lebih tepatnya H-4 Ramadhan 1434 H, selesai sudah aku menghatamkan novel legendaris Jepang yang berjudul Totto Chan, sebuah novel yang bercerita tentang betapa pendidikan itu sangat mempengaruhi cara berfikir dan cara pandang seseorang.

Novel yang diberi judul “Totto Chan, Gadis cilik di jendela” itu telah berhasil merebut perhatianku, dua bulan yang lalu, aku melihat buku itu tergeletak di kosanku, aku cuek saja melihat buku itu, tidak ada yang special dengan buku itu, begitu pikirku. Tapi pada suatu malam, sepulang kerja aku biasanya menyalakan tv untuk menemani waktu istirahatku, malam itu ada yang berbeda, aku merasa agak sedikit bosan jika setiap malam terus menerus menonton televisi, malam itu aku putuskan untuk mengerjakan sesuatu yang lebih produktif, malam itu aku ingin sekali membaca buku, tapi masalahnya buku apa, ku lihat di lemari buku ku, sudah tak ada lagi tanda-tanda buku yang menarik untuk di baca, semuanya sudah kulahap, tapi sesaat kemudian pandanganku tertuju pada sebuah buku di sudut ruangan yang tergeletak begitu saja, mungkin punya teman se kosanku, kulihat cover buku itu sudah lusuh, berdebu, dan kertasnya sudah mulai menguning.

Kulihat judulnya, Totto Chan : The Little Girl at the Window, karena tidak ada pilihan lain, ku buka saja buku itu, ku baca halaman pertama, masih lempeng saja aku menanggapi nya, halaman kedua mulai enak dibaca, halaman ketiga aku tersihir, halaman ke empat aku excited, sampai di halaman terakhir, aku rasa aku beruntung pernah membaca buku itu, aku beruntung mengenal sosok Totto Chan yang telah dengan senang hati menceritakan Sosaku Kobayashi dan Tomoe Gakuen untuk ku.

Buku setebal 271 halaman itu, telah meninggalkan kesan yang mendalam di hatiku. Jujur saja, aku menangis membaca salah satu bagian dalam buku itu, persis ketika Totto Chan dikeluarkan di sekolah yang pertamanya, tanpa sadar air mataku pun mengalir, aku teringat masa kecilku, saat itu aku kelas 1 SD, aku tidak bisa mengerjakan soal matematika yang diberikan oleh guruku di kelas, aku tertunduk, aku sama sekali tidak bisa mengerjakannya, hanya aku dan satu temanku yang tidak bisa mngerjakannya, karenanya kami di hukum, kami berdua harus jalan bebek sambil mengelilingi bangku teman-teman sekelas kami, aku malu sekali saat itu, sangat malu, ingin sekali aku menangis, hanya tak bisa, hukuman itu telah membunuh karakterku. Sejak saat itu, aku benci guruku, aku muak belajar dengannya, aku benci matematika, bahkan sampai saat ini. Padahal sebelum kejadian itu, aku selalu semangat belajar matematika. Itulah matematika dimataku, ia tidak lebih dari imajinasi monster mengerikan yang terlalu sia-sia untuk di fikirkan.

Menurutku, seharusnya buku Totto Chan itu dijadikan bacaan wajib para guru, orang tua dan pemangku kebijakan pendidikan, dimanapun mereka berada. Agar mereka yang mengatasnamakan diri sebagai pendidik, menjadi lebih faham bagaimana menyikapi anak yang sedang berada dalam masa perkembangan. Ketidak mampuan nya dalam memahami sesuatu merupakan tanggung jawab pendidik untuk memahamkannya, bukan untuk di ejek, di tertawakan apalagi di permalukan di depan umum.

Sosok Mr. Kobayashi dalam buku itu merupakan sosok pendidik yang sungguh-sungguh memahami cara bagaimana mendidik anak, terutama cara menyikapi anak yang sedang ada dalam masa pertumbuhan. Sungguh beruntung murid-murid Tomoe. Di sekolah itu, murid-murid di perlakukan sebagai mana mestinya, mereka sangat disayangi dan dihargai, apapun kemampuannya. Tidak ada kastanisasi kecerdasan di sekolah itu, semua murid di berikan penghargaan dan ksempatan yang sama untuk menunjukan potensi diri masing-masing.

Proses belajar mengajar di sekolah itu berlangsung menyenangkan setiap hari, tidak ada tekanan, tidak ada intimidasi apalagi diskriminasi. Rasanya, ingin sekali aku menjadi bagian dari sekolah itu, sekolah yang membentuk manusia-manusia yang memiliki kwalitas dan kemampuan yang unggul di bidangnya masing-masing.

Mereka yang lulus dari Tomoe, adalah orang-orang yang sukses dan memiliki kontribusi penting bagi lingkunganya. Seperti itulah seharusnya pendidikan melahirkan generasinya, bukan menciptakan para pengangguran intelek, atau menghasilkan lulusan yang sibuk mengirim lamaran kerja setelah mereka wisuda, mendapat pekerjaan, masuk kerja jam 8 pulang jam 5, terjebak pada rutinitas, menunggu tanggal gajian, dan pensiun. Begitu seterusnya, mungkin sampai mati, pendidikan ini akan di cetak menjadi siklus diorama yang membosankan.      

Padahal hakikat pendidikan jika di tarik ke dalam sejarah Islam, merupakan sarana untuk menghantarkan manusia kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, tidak ada dikotomi dan tidak ada kelebihan satu pelajaran atas pelajaran yang lain, semuanya penting dan memiliki fungsi masing-masing. Bisa kita bayangkan, jika dunia ini hanya penuh dengan ahli fisika, bukankah sangat serius? Atau, jika dunia ini hanya di penuhi dengan musisi, tentu dunia ini akan tampak sangat melankolis dan lebay; atau jika dunia ini hanya di penuhi oleh ustadz, rahib dan pendeta, tentu dunia ini akan tampak sangat fiktif karena kondisi pemahaman manusia yang sudah begitu melangit.

Islam sebagai agama yang sangat sempurna, memberikan arahan bagaimana kita bisa mengimbangi semua aspek kehidupan (dunia dan akhirat). Masa ke khalifahan Harun Al Rasyid, bisa dijadikan bukti atas ungulnya pendidikan Islam, keberhasilan khalifah dalam memimpin rakyatnya pada masa itu, menjadi bukti keberhasilan Islam memadukan kekuatan umatnya sehingga menjadi penguasa adi daya di dunia namun tetap konsisten kepada orientasi akhirat.

Sesungguhnya kita ummat Islam, memiliki sejarah yang jauh lebih revolusioner di banding Tomoe Gakuen, kita punya siroh nabi dan sahabat yang bisa kita pelajari kapan pun. Pola pendidikan ideal yang tercermin dalam kehidupan Rasulullah, sejatinya menjadi petunjuk berharga dalam diri setiap muslim. Bukan hanya menghafal deretan do’a berbahasa arab yang tak sedikitpun kita tidak tahu maknanya.
Aku ingin menangis, melihat ajaran Islamku diaplikasikan oleh orang lain yang bukan muslim.