Minggu, 10 Mei 2015

You Are What You Eat



Pepatah tua Inggris mengatakan “You Are What You Eat” yang artinya kurang lebih, kamu adalah apa yang kamu makan. Mungkin pepatah ini terdengar sedikit lebay dan terlalu simple untuk dibahas. Namun bagi saya, kata-kata ini sangat tajam dan memiliki makna filososfis yang dalam.

Pepatah ini bagi saya bukan hanya kata-kata bijak untuk pola hidup sehat saja, mungkin segelintir orang hanya mentafsirkan pepatah ini dengan kondisi badan kita adalah apa yang kita konsumsi, sehat dan tidaknya kita adalah bergantung kepada apa yang kita konsumsi, dalam hal ini adalah makanan dan minuman. Tafsir ini tidak salah, hanya sayang, jika ditafsirkan terlalu sempit.

Bagi saya, pepatah ini bermakna dua sisi: pertama, yaitu menjaga asupan makanan dan minuman ke tubuh kita, tidak berlebihan dan tidak kekurangan, seperti cukup sayur, cukup buah, cukup cairan, cukup karbo dll. Bagi yang suka makanan manis, hendaknya tidak terlalu berlebihan mengkonsumsi makanan manis, begitu juga dengan mereka yang suka dengan makanan asin seperti saya. Jangan berlebihan!

Terlepas dari sahih atau dlaifnya hadits tentang berhentilah makan sebelum kenyang. Namun alasan medis begitu kuat bahwa Nabi Saw menyuruh kita membagi “space” lambung kita menjadi tiga bagian: Spertiga untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara. Jika makanan yang kita konsumsi lebih dari sepertiga space lambung, maka akan melebihi kapasitas enzim pencerna, sehingga tidak akan mampu diserap dengan sempurna. Dan akan menyebabkan fermentasi, salah cerna dan menimbulkan gas.

Artinya, kesehatan kita akan sangat bergantung dengan apapun yang kita konsumsi. Jika kita merasa yang kita konsumsi kurang baik tapi tidak terjadi dampak apapun pada tubuh kita, hal ini mungkin saja berdampak pada efek jangka panjang tubuh kita. Ketika masih muda merasa kuat dan seperti tak terjadi apa-apa, namun saat usia mengingjak 40 tahun, semuanya mulai terasa sakit. Naudzubillah.

Sebagai muslim, tentu saja kita ingin dikaruniai Allah usia yang berkah, sehat dan kuat. Sehingga tidak ada satu macam ibadahpun yang kita lewatkan karena kita mampu melaksanakan seluruhnya. Itulah alasan Allah lebih mencintai muslim yang kuat (sehat) daripada yang lemah (sakit-sakitan).

Ketika jatuh sakitpun ada dua kemungkinan, apakah penyakit yang kita derita adalah murni pemberian ujian dari Allah, atau justru malah buah dari keteledoran kita dalam mengkonsumsi segala jenis makanan tanpa memperhitungkan kondisi tubuh. Jika penyakit yang kita derita adalah murni ujian dari Allah, maka apapun keputusan Allah itulah yang terbaik, namun jika penyakit yang kita derita adalah karena buah dari keteledoran, maka mulailah untuk memerbaiki pola hidup anda, supaya penyakit itu jauh dari kehidupan anda.

Makna kedua pepatah you are what you eat untuk saya adalah makna pesan moral dari pepatah tersebut. Tindakan dan perkataan yang keluar dari segenap tubuh kita, itulah kita sebenernya. Masih bingung? Oke, saya jelaskan lagi.

Apakah anda sering melihat orang yang senang berganti status setiap jam, meng-ekspos apa yang dia rasakan dan dia alami setiap detik. Mending kalau yang di-updatenya kata-kata motivasi atau quotes yang berguna, tapi kalau yang di update status adalah masalah pribadinya kan mulai berabe tuh.

Salah seorang kenalan saya ceritanya senang sekali meng-update kesuksesannya, dari mulai dia masuk S2 sampai dia lulus dan bekerja di sebuah kantor pemerintahan. Mungkin motifnya baik yah, untuk membagi kabar bahagia, namun tak disangka ternyata kos-kosannya kemalingan akibat update foto dia lagi makan di sebuah restoran mewah di Kota Bandung. Orang jadi tahu kali ya, kalo dia emang banyak duit dan tajir maha daya.

Kasus lain adalah berasal dari kisah seorang klien di Psikolog sekolah saya, dia bercerita bahwa ada kliennya yang dirampok kemudiann diperkosa gara-gara membuat status “home alone nih” di facebook. Mungkin jika temannya yang baik membaca status seperti itu tidak jadi masalah, tapi kalau ternyata yang membaca ststus tersebut adalah temannya yang punya niat jahat, hayoo gimana…?

Kisah-kisah di atas semoga bisa dijadikan hikmah yaa buat kita, status itu adalah perkataan kita loh teman, jadi jika kita senang mengeluh, bersumpah-serapah, meng-ekspos prestasi kita sendiri di media social (ria) itulah cerminan jiwa kita, jauh dari kebergantungan kepada Allah. Dimana letak penghambaan kita terhadap Allah, dimana Rasulnya selalu mencontohkan untuk bersikap, tawadlu dan hanya berkeluh kesah pada Allah saja.

Saya teringat nasihat A Agym yang bunyinya: “Mulutmu itu seperti teko, jika isinya air putih, maka ketika dituangkan akan keluar air putih. Dan jika isinya air kopi, maka yang dituangkan adalah air kopi”. Begitu juga dengan mulut kita, jika hati dan fikiran kita isinya baik, maka yang keluarpun adalah kata-kata dan tindakan baik, namun jika isi hati dan fikirannya buruk, maka kata-kata yang dikeluarkannyapun jauh dari nilai-nilai ketwadluan.

Rasulullah bersabda: “Jika kita bersedekah dengan tangan kanan, maka tangan kiri jangan sampai tahu”

Dari hadits di atas jelaslah, bahwa jika kita melakukan kebaikan harus disembunyikan, jangan dikatakan pada siapapun apalagi sampai diekspos di media social yang berpeluang dibaca oleh ribuan pasang mata. Terlebih lagi jika ada masalah, ada seorang istri yang menjelek-jelekan suaminya di media social. Astagfirullah.. dia menyebarkan aib suaminya kepada teman-teman media sosialnya. Rasa lega datang ketika ada yang me-like atau mengomentari dengan penuh rasa iba kepadanya, namun apakah dia sadar jika Allah tidak ingin menutupi aib seseorang yang suka menyebarkan aib orang lain.

Pergunakanlah media social dengan bijak, media social adalah alat untuk hidup bersosial, bukan untuk menjadikan kita anti social, berkeluh kesah, bersumpah serapah, meng-ekspos kesuksesan pribadi (ria) apalagi sampai menyebarkan aib orang.

Untuk itu, mari kita jaga perbuatan dan perkataan kita dengan terus menerus mengkaji ilmu Allah, mempraktekannya dan membagikannya. Jangan sampai ilmu itu hanya menjadi “koleksi otak” saja. Jadi You are what you eat adalah Apa yang kita katakan dan lakukan adalah apa yang kita fahami. Semua yang kita konsumsi harus halalan tayyiban, baik konsumsi yang masuk ke perut apalagi konsumsi yang masuk ke pikiran kita. Sehingga berbuah menjadi kata dan aksi positif.

Dunia maya atau dunia nyata, kita tetaplah kita, yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban atas umur kita.

“Rabbanaa dzalamnaa angfusanaa wainlam tagfirlanaa watarhamnaa lankuunanna minal khaasiriin”

Antapani. 10 Mei 2015



Selasa, 28 April 2015

Metamorfosa



                Aku adalah seorang yang memiliki banyak karakter buruk, dulu mungkin karakter buruk itu hanya bibit, namun semua menjadi tumbuh subur seiring dengan budaya jahiliyah disekitarku yang membiarkannya berkembang biak dan beranak pinak.

                Sifat paling buruk yang melekat dalam tubuh penuh dosa ini adalah sombong, merasa hebat, merasa mandiri, dan cepat berburuk sangka kepada orang lain, hal itulah yang menjadikanku sulit untuk mendapat teman. Dan lebih parahnya, aku nyaman dengan ketidak hadiran teman dalam hidupku, tidak ada masalah bagiku jika tidak ada orang yang menemaniku, daripada banyak teman malah tambah banyak membuat dosa. Begitu alibiku.

                Aku dulu senang dengan sesuatu yang membuatku sibuk sendiri, seperti memasak, menulis, beres-beres dan mendesain di corel. Aku senang dengan semua hal itu. Aku tidak ada masalah dengan orang-orang, tapi orang-oranglah yang punya masalah denganku.

                Semasa SMA-ku dulu, aku tidak memiliki begitu banyak sahabat, mungkin mereka malas berteman denganku karena aku yang terlalu perfeksionis, dan sekali lagi. AKU TIDAK PEDULI. Apalagi saat itu prestasi akdemiku melejit bahkan sampai rangking satu di sekolah.

                Begitu aku menginjak bangku kuliah, budaya itu masih saja melekat dihidupku. Banyak orang yang tidak menyukaiku, semakin banyak dan semakin banyak. Teman sekelas, teman kosan, bahkan sampai kakak tingkat, mereka semua membenciku.

                Suatu ketika aku pernah memiliki teman sekosan yang sangat jorok, Dia menaruh handuk bekas pakai di mana saja, menyimpan gayung di lantai kamar mandi, menumpuk cucian, malas cuci piring, dsb. Sementara aku adalah orang yang harus serba perfect. Tak jarang kami sering bentrok, dari mulai beradu mulut sampai perang dinginpun pernah kami rasakan, hingga akhirnya kuliah kami lulus dan kami terpisah. Namun, Allah Yang Maha Pengampun menyadarkanku, betapa buruk sifatku. Tuhan, aku lelah dengan sifatku.

                Bertahun-tahun belajar Islam, mungkin hanya sampai di otak dan mulutku, tak pernah sampai ke hatiku apalagi sampai seluruh organ tubuhku untuk dilaksanakan. Ilmu agama yang se-abreg hanyalah koleksi otak semata.

                Perlahan, akupun mulai sering berdoa kepada Allah dalam sujudku, suapaya Allah Ar-Rahiim menganugrahkan aku akhlak yang baik dan lemah lembut, memiliki banyak teman dan senang bersosial. Sesekali aku bentrok dengan teman, sesekali akupun mampu menahan amarah dan mengalah.

                Aku terus-menerus berdoa kepada Allah SWT, agara Dia memberiku akhlak seindah akhlak Rasulullah. Yang senantiasa mampu menyunggingkan senyumnya dalam situasi sesulit apapun. Perlahan tapi pasti, doa itu sedikit demi sedikit terwujud.

                Akupun mulai memahami konsep ikhlas dalam berteman. Ikhlas yang aku fahami bukan hanya sekedar rela. Namun lebih dari itu, ikhlas yang kufahami adalah mampu menerima kelebihan dan kekurangan teman kita dalam keadaan senang maupun terpaksa.

                Suatu hari aku pernah kembali di anugrahi Allah teman yang tidak begitu bisa dalam memelihara kebersihan. Namun apa yang terjadi? Tidak ada lagi bentrokan, aku tidak lagi mengambil pusing kondisi. Aku akan membersihkannya jika aku mau, dan jika aku tidak mau maka aku diam saja, tidak ada perang mulut, apalagi perang dingin.

                Semakin bertambah usia, aku semakin memahami bahwa fungsi senyum itu sangat penting, aku pun mulai terbuka dengan teman-teman baruku, mereka nyaman denganku dan akupun nyaman bersama mereka.

Sahabat..

Terimalah kekurangan teman kita dengan penuh rasa keimanan, jika kita mampu untuk merubah sifat jelek teman kita, maka rubahlah dengan cara yang makruf, lengkapi kekurangannya dengan kelebihan yang ada pada kita. Namun jika tidak, janganlah kita menggerutu dengan kekurangannya, apalagi menjauhinya. Karena semua itu dari Allah. Daripada kita terus-menerus menggerutu dengan sifat buruknya, maka focus pada keburukan sendiri itu akan seribu kali lebih baik.

Bertoleransi dengan kekurangan orang lain adalah kunci persahabatan, berkata dan berbuat halus merupakan sikap yang tak hanya disenangi oleh manusia, namun juga Allah. Senyum yang tersirat dibibirmu akan menjadi magnet persaudaraan.

Dengan berbekal pemahaman ini, akupun bisa akrab dengan semua orang. Dari mulai sahabat sekantor sampai tukang batagor depan SD sebelahpun, aku ajak ngobrol dan berkenalan. Kurasa hidupku lebih bermakna dan bersahaja. Aku bisa menghargai kelebihan dan kekurangan orang lain dalam waktu 7 tahun. Waktu yang tidak singkat, namun cukup untuk memahamkan orang bodoh sepertiku mengetahui kulit dari apa yang disebut ikhlas.

Sungguh cantik cara Allah menyadarkanku dan memberiku ilmu tentang toleransi (tafahum) dalam berteman dengan sesame muslim dan seluruh manusia di bumi ini. Sungguh, kalaupun aku terlahir sebagai orang kaya raya, secerdas Zukerberg dan secantik Ann Hathway. Tidak ada sedikitpun kewenangan untuk bersikap angkuh dan merasa lebih baik dari orang lain.

“Rabbanaa dzalamnaa angfusanaa, wainlam tagfirlanaa, watarhamnaa, lanakuunanna, minal khaasiriin”

Maha Suci Allah dari Apa Yang aku sekutukan.
Berfikir melangit dan berakhlaklah membumi.
Metamorfosa hidup..
Maaf jika aku belum bisa menjadi orang baik.

Sudut kosan
Antapani, 29 April 2015

Selasa, 10 Maret 2015

Mukjizat yang terlupakan


Aku adalah manusia, manusia yang terdiri dari berbagai macam organ, yang dengan fase alaminya, aku tumbuh dari seorang bayi merah menjadi balita, anak-anak, remaja sampai saat ini mungkin aku telah dikatakan dewasa secara rentang usia manusia. Usia yang terus menerus bertambah tua, angan-angan yang semakin panjang, kebutuhan hidup yang semakin bertambah dan arogansi yang semakin tinggi.

Aku berasal dari segumpal darah yang membelah sel hingga menjadi segumpal daging, kemudian tiba-tiba saja di dalamnya ada tulang, jadilah tulangku terbungkus daging, kemudian sel-sel itu otomatis dengan sendirinya membentuk organ-organ penting seperti mata, telinga, rambut, kaki, tangan dan lain-lain. Sel baik itu tidak pernah salah koordinasi dan intervensi tugas satu sama lain, mereka begitu harmonis dan focus dengan tugasnya masing-masing, karena akulah salah satu diantara sebaik-baik bentuk itu, sampai suatu hari tanggal lima agustus 1989 aku dilahirkan sebagai seorang bayi yang dititipkan kepada seorang ibu yang mulia.

Selama lebih dari 25 tahun perjalanan hidupku di dunia ini, aku sering lupa akan siapa diriku, dari mana asalku dan yang paling penting, akan kemana kembaliku? Sering kali diri ini berdalih untuk menjauh dari pemikiran itu, walau kadang ada yang mengingatkan, tetap saja diri ini sering pura-pura lupa dengan hal itu dan semakin tak peduli, sampai akhirnya sifat lari dari tanggung jawab itupun menjadi karakter yang melekat dan mendarah daging, enggan mengingat dan selalu menghindar jika ada orang yang mengingatkan.

Namun Allah Yang Maha Penyayang itu masih memberikan kesempatan itu padaku, kebaikan-Nya senantiasa meluangkan kesempatan untukku, ah.. mungkin saja makhluk-Ku yang durhaka ini akan bertaubat besok, mungkin lusa, mungkin minggu depan, atau mungkin bulan depan? Kebaikan-Nya memberikan kesadaran kepadaku setelah aku menyi-nyiakan hidupku selama lebih dari seperempat abad? Aku tak pernah berusaha mengenal-Nya, namun Dia mengingatkanku akan tempat kembaliku dengan surat cinta-Nya. Sungguh aku malu

Dia memintaku untuk merubah kebiasaan buruku sebelum datang suatu hari yang tak dapat ditolak kedatangannya, jika tidak mau bernasib sama dengan orang-orang durhaka terdahulu, ini dia surat cinta itu:

katakanlah (Muhammad): berpergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan Allah.”
“Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari (Kiamat) yang tidak dapat ditolak, pada hari itu mereka terpisah-pisah”

Ayat ini Allah tujukan untuk orang-orang yang durhaka sepertiku, agar dengan kesadaran minimnya mau bertaubat, dan menjauh dari kebiasaan buruk dan ingkar, orientasiku sering berbelok tak karuan, aku iri dengan orang-orang yang bisa beristiqamah dalam kesalihan, sementara aku hanya mendekati Tuhanku manakala aku ada kebutuhan, aku seperti pengamen yang berusaha menyanyi semerdu mungkin untuk menarik perhatian yang mendengar, tapi setelah orang yang terhibur itu memberikan uangnya padaku, aku langsung menerimannya dan pergi. Sekali lagi. Hanya datang saat butuh.

Ya Rabbi, sungguh aku akan berusaha menghadapkan wajahku hanya pada-Mu, walau terseok-seok, aku akan tetap berusaha

Oh Allah, hamba mohon, kembalikanlah hamba dalam keadaan khusnul khatimah dan wafatkanlah hamba bersama orang-orang yang berbakti kepada-Mu. Amiin

Rabbanaa taqabbal minna, innaka antas samii’ul ‘aliim

Selasa, 21 Oktober 2014

Menukar Sejarah



Sejarah merupakan mata pelajaran paling menjemukan saat aku duduk di bangku SMP, bukan karena guruku tak pandai menjelaskan, hanya saja mungkin aku yang terlampau tak faham apa gunanya. Begitu juga ketika aku masuk sekolah di tingkat SMA, sejarah bagiku hanyalah kepingan batu berpasagan yang kehilangan pasangannya, tak ada kewajiban bagiku mencarinya. Apa gunanya?

Namun ada potret lain dari pelajaran sejarah ketika aku duduk di bangku akhir SMA, dulu di sekolahku memang ada dua guru sejarah, 1 sejarah nasional dan 1 lagi sejarah pendidikan Islam (SKI). Dari kedua pelajaran itu, hanya ada 1 guru yang menjadi favoritku, sampai saat ini kisah penaklukan Andalusia (Spanyol) oleh tentara Islam yang dia jelaskannya, sungguh masih melekat di otaku. Peristiwa berharga itu, dia kisahkan kepada kami di tengah hari siang bolong dengan nada heroic dan sesekali diselingi dengan sifat jenakanya. Dialah Ust. Herlan Sudarsa, namanya sungguh melekat. Darinyalah aku mulai menyukai sejarah.

Semenjak saat itu, aku mulai memiliki paradigma yang berbeda tentang sejarah. Aku mulai berfikir bagaimana caranya supaya aku mengenal sosok-sosok muslim hebat zaman dulu. Aku mulai penasaran dengan kehebatan mereka.

Saat masuk ke dunia kuliah, aku semakin menyukainya saja, beberapa kali ku ikuti seminar tentang sejarah di Bandung, semakin hari aku pun semakin takjub, dan semakin pariatif saja cara Tuhan memberi hidayah kepadaku melalui sejarah.

Dia memperkenankan aku berkenalan dengan teman yang juga sama-sama menyukai sejarah, dia punya buku berikut film-film sejarah. Membeli buku tebal dan berkwalitas adalah suatu kemustahilan untuk mahasiswa pas-pasan sepertiku, akhirnya aku memberanikan diri untuk meminjam pada temanku. Ingin sekali rasanya aku menonton film-film sejarah yang dia miliki, namun apa daya, aku tak punya computer apalagi laptop untuk menunjukan wujud file-nya waktu itu.

Aku mulai melahap habis semua buku-buku itu, aku semakin gila sejarah, setiap mata kuliah sejarah, nilaiku pasti selalu bagus, seiring waktu Alhamdulillah Tuhan memperkenanku memiliki laptop, dan file-file yang dulu usang karena hanya di simpan di flashdisk, kini dia bisa menunjukan senyum meronanya di hadapanku. Kubuka file demi file, aku ternyata memang maniak sejarah. Mulai dari durasi film yang 2 jam sampai yang 18 jam semuanya kulahap habis dalam waktu hanya beberapa minggu.

Aku senang, sungguh di dunia ini ada segelintir orang yang memvisualkan sejarah, sehingga bisa diingat oleh orang-orang yang anti auditori sepertiku. Itulah visualisasi sejarah sungguh hebat.

Namun ditengah perjalananya, semakin aku faham, semakin kontroversi sejarah versi satu dan versi lain. Sebagi contoh, ada dua buku yang membahas sejarah proklamasi bangsa Indonesia. Dibuku pertama di jelaskan bahwa proklamasi terjadi karena Jepang telah menyerah dengan sekutu, dimana bung Karno sebagai bapak proklamator yang namanya masih harum sampai detik ini sungguh tak tergantikan jasanya.

Sementara itu dibuku lain, perjuangan perebutan Indoensia dari tangan penjajah merupakan jerih payah para ummat Islam Indonesia yang mati-matian melawan para penjajah dan orang-orang pribumi yang berpangku tangan dengan penjajah. Saat itu mulailah intuisiku berjalan, mengapa ada dua versi? Apakah standar penelitiannya berbeda?

Seketika di saat jam mata kuliah metode penelitian kutanyakan pada sang dosen Bpk. Abbas (Pakar Kualitatif dari Un. Hasanuddin Makasar). “Bpk, mengapa dalam satu objek penelitian ada dua hasil yang berbeda, apakah standar penelitiannya berbeda? Atau apakah bukti-bukti menunjukan berbeda? Sebagai contoh di pelajaran sejarah bla-bla-bla” Sambil menarik nafas dalam-dalam, Bpk. MetLit mulai menjawab. “Hasil penelitian pada metode kualitatif memang bergantung kepada si peneliti itu sendiri, walaupun dengan metode yang sama dua kepala pasti akan menitik beratkan pada hal yang berbeda” begitu ungkapnya.

Sejenak otak ku termenung, jika standar kebenaran sebuah fakta sejarah bersifat subjektif, bagaimana caraku untuk bisa menemakan kebenaran yang sesungguhnya terjadi, ini sulit berarti tidak ada yang bias kupercaya. #otaku mulai bekerja

Sepulang kuliah, aku bertemu lagi dengan teman sepadepokanku yang gila sejarah hee. Dia bilang kalau sejarah merupakan ilmu pengetahuan yang bisa digunakan sebagai alat propaganda yang efektif untuk membentuk opini public, oleh sebab itu sejarah akan selalu berpihak kepada siapa yang berkuasa. Karena disitulah si penguasa diuntungkan, dengan kata lain, paradigma berfikir masyarakat akan menganggap bahwa system yang berlaku saat itu adalah benar. Itulah sebabnya pelajaran sejarah tidak pernah dikurangi jamnya hingga saat ini dalam kurikulum pendidikan. Sebagai contoh, sejarah yang ditulis oleh ilmuwan Yahudi, mungkin akan menjelaskan bagaimana dulu Yahudi disiksa oleh rezim Nazi, mereka disiksa di camp-camp konsentrasi sampai mati, hal ini menggambarkan bagaimana orang-orang Yahudi memperjuangkan kebenaran mereka sampai datangnya sosok Albert Einstein yang menyelamatkan ras Yahudi dengan penemuannya. Dengan kata lain, kemajuan teknologi yang ada pada peradaban saat ini merupakan buah jerih payah bangsa Yahudi dan bangsa lain seolah tidak memiliki kontribusi apapun.

Contoh lain, ketika seorang yang menulis sejarah itu seorang Nasrani, mungkin dia akan menceritkan sejarah perjuangan bangsa Nasrani sampai mereka menjadi agama mayoritas 3 benua (Eropa, Amerika dan Australia), bagaimana kesucian para paus, uskup, pastor, biarawan dan biarawati menjadi agen-agen greja dilingkungannya.

Skandal-skandal yang pernah terjadi seolah terkubur, dipoles dengan karya-karya mereka yang diungkap secara hiperbola dan mendunia, sekali lagi seolah pihak lain tidak memiliki kontribusi akan peradaban ini.

Begitulah sejarah, satu-satunya ilmu pengetahuan yang memiliki seubjektifitas tinggi dan orang polos pasti akan menerimanya mentah-mentah. 

Subhanallah aku seperti tersambar petir, setelah puzzle demi puzzle itu kusambungkan, ternyata itulah sebabnya mengapa terjadi dualism fakta sejarah seperti saat ini. Lalu, bagaimana dengan ummat Islam? Fakta sejarah mana yang akan diambil sebagai sebuah pijakan suatu standar kebenaran. 

Sejarah memang bukan ilmu pasti, tapi pasti ada satu kebenaran berdasarkan fakta yang valid, ilmu yang bisa diverifikasi, mampu dipertanggungjawabkan, dan layak dijadikan gambaran sebuah perjuangan menegakan kebenaran dimasa silam. Waktu memang tak kan berulang, tapi peristiwa pasti terulang. Itulah inti sejarah, ia adalah potret pola perjuangan bagi kita, umat manusia setelahnya. Oleh sebab itu, wajib hukumnya, mengetahui esensi sejarah dari masa ke masa.

Berikut adalah beberapa alasan pentingnya agan-agan memahami sejarah:

1.        70 % muatan al-quran merupakan sejarah, dengan demikian Allah SWT pasti memiliki maksud tertentu. Ketika Allah menceritakan sebuah kisah dalam al-quran, baik berupa kisah perjuangan, kisah keberhasilan, kisah pembangkangan, dan sejumlah kisah lain yang Allah ceritakan berikut dengan penyelesaiannya, berupa balasan-balasan bagi tiap-tiap pelaku sejarah.
Berikut firman Allah dalam surah Yusuf ayat 111

Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Quran) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman
(Qs Yusuf: 111)

2.      Dengan memahami sejarah, kita bisa memiliki rasa optimism yang tinggi sebagai ummat Islam, mengapa demikian?, begini logikanya, jika pada saat ini ada bangsa lain yang menjajah dan membatasi ruang gerak ummat Islam, maka dimasa yang akan datang, kitalah yang akan memegang kendali atas dunia ini. Loh ko bias? PeDe amat? Buka PeDe tapi ini adalah efek beriman kepada Al-Quran. Heehee

Liat ayat ini deh, Cekidot.. Qs Ali-Imran: 104
Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada Perang Badr) mendapat luka yang serupa, Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami Pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah Membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang yang kafir) dan agar sebagian kamu Dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zalim” (Qs Ali Imran: 140)  

Gimana? Dahsyat banget kan ayat itu. Bener-bener penyejuk hati buat orang-orang beriman kaya kita, bikin optimis dan tambah semangat beribadah. Begitulah sunatullah, kemenangan adalah suatu yang dipergilirkan. (Subhanallah Mamah Dedeh)

Kalo kamu lihat ayat di atas, ayat itu memang mengkisahkan mengenai dua perang yang pada akhirnya, Ummat Islam berada pada dua buah hasil yang kontras. Menang dan kalah. Tapi guys, perlu kalian tahu bahwa kemenangan hakiki hanya akan Allah sematkan pada para pejuang-Nya, yang siap berperang membela Islam (Wuiiiih Sadis bahasanya), ntar gw dianggap ISIS lagi, heeehee peace ah.. oke gini deh biar simple, agan dengerin cerita ane bae-bae.

Soccer, atau cabang oleh raga yang paling digilai di dunia ini, para penggila bola ini akan rela membayar tiket semahal apapun, antri sepanjang apapun tentu tidak masalah, asalkan bisa melihat secara langsung acara berebut bola rame-rame itu,  ketika wasit meniupkan peluit tanda pertandingan dimulai, kedua kesebelasan siap merebut, mengover dan mencetak gol untuk saling mengalahkan satu sama lain.

Ketika ada seorang pemain yang berhasil mencetak gol berkali-kali ke gawang lawan, pasti semua timnya bangga, suporternya bangga, coach-nya bangga, lebih dari itu negaranya pun bangga.

Sebut saja Mesut, si Mesut berhasil menyabet rekor sebagai pencetak gol terbanyak dalam kurun waktu 10 tahun di dunia persepak bolaan dunia. Akhirnya FIFA memberikan apresiasi berupa sepatu emas kepada si Mesut, seluruh official dari tim si Mesut diundang secara khusus oleh FIFA. Sepatu emaspun diberikan secara langsung oleh CEO FIFA ke tangan si Mesut. Terdengar riuh tepuk tangan dari semua yang hadir di acara tersebut, terlebih ketika tim si Mesut disebut sebagai tim sepak bola terbaik dunia, dan tim juga berhak mendapatkan hadiah uang sebesar 500 juta dolar.

Sementara supporter dan komentator, tidak mendapatkan apapun, mengapa demikian? Karena mereka hanya penikmat dan penonton saja, sibuk bercuap-cuap mengungkapkan strategi penyerangan untuk membobol gawang lawan, tanpa sedikitpun pernah turun tangan untuk memperjuangkan tim kesayangannya.

Begitupula yang terjadi dengan sejarah, manakala agan-agan hanya bercuap-cuap atau bahkan cuman update status aja, niscaya tidak akan mendatangkan kemaslahatan apapun tapi jika agan memperjuangkan kebenaran, maka suatu saat akan ada tinta emas yang akan menuliskan pengorbanan agan. Allah akan mengundang kedalam syurga secara khusus bagi para pejuang yang gugur di dunia dalam rangka membela apa yang diinginkan-Nya.

Semuanya saya serahkan kepada agan, agan mau jadi pelaku sejarah atau penonton sejarah. Mumpung masih di dunia, we have so many choice.

Berbuat dan perjuangkan kebenaran semampu agan, sesuai dengan bakat dan potensi yang sudah Allah bekali kepada kita semua. 


Catatan sepulang kerja. Bandung. 21 Oktober 2014